Maaf, tidak ada tulisan yang memenuhi kriteria Anda.


Comments

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

No Comment

  1.    awan on Juli 12, 2007 6:58 am

    Salam kenal Pak, kalau ada waktu silahkan kunjungi saya di http://awan965.web.id/ atau di http://awan965.wordpress.com/.

  2.    handoko on Juli 15, 2007 1:43 pm

    Ya, wacana sertifikasi guru makin menghangat setelah PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan UU no. 14/2005 tentang Guru dan Dosen diluncurkan. Namun, pada tingkatan praksis, pelaksanaan uji sertifikasi ternyata masih menimbulkan masalah karena PP tentang UU Guru dan Dosen sendiri ternyata belum klir. Memang mutu guru hanya merupakan salah satu faktor saja di antara sekian faktor yang ikut menentukan mutu pendidikan. Jadi, betul, untuk meningkatkan mutu pendidikan perlu ada

  3.    subpokjepang on Juli 19, 2007 6:51 am

    Saya setuju. Sebagai produk budaya, masih ada nilai-nilai seni dalam tayub yang layak dipertahankan, minimal pada sisi gerak dan tariannya. Yang perlu dicermati adalah ulah para penayub dan penari (ledhek) yang sering kali menampilkan kesan jorok dan seronok.

  4.    Sertifikasi Guru, Sebuah “Indonesia” yang Tertinggal « JALUR LURUS on Juli 31, 2007 10:13 pm

    [...] Simak juga tulisan saya “Latar Belakang Sertifikasi Guru“. [...]

  5.    nur sujayanto on Agustus 22, 2007 9:04 pm

    SAYA KOQ BELUM LIHAT REFERENSI ANDA DARI PERATURAN
    MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
    REPUBLIK INDONESIA
    NOMOR 18 TAHUN 2007

    ————–
    Maaf, belum sempat mosting, he-he-he :D Makasih dah diingatkan. Sebagai pelengkap baca di sini, ya, Pak.

  6.    Legenda Sisyphus dan Bongkar Pasang Kurikulum « JALUR LURUS on Agustus 27, 2007 2:29 am

    [...] kita mencoba melakukan kilas balik terhadap perubahan kurikulum di negeri ini. Setidaknya sudah tujuh kali perubahan kurikulum tercatat dalam sejarah, yakni Kurikulum 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP. Namun, apa [...]

  7.    Kang Sakri Weblog » Blog Archive » Legenda Sisyphus dan Bongkar Pasang Kurikulum on Agustus 27, 2007 3:11 am

    [...] kita mencoba melakukan kilas balik terhadap perubahan kurikulum di negeri ini. Setidaknya sudah tujuh kali perubahan kurikulum tercatat dalam sejarah, yakni Kurikulum 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP. Namun, apa [...]

  8.    Benarkah Pelajar Kita “Rabun” Sastra? « JALUR LURUS on Agustus 28, 2007 6:35 pm

    [...] pembelajarannya “hancur” dan babak belur. Lebih-lebih pembelajaran apresiasi sastra. Para siswa tidak diajak untuk mengapresiasi (baca: memahami dan menikmati) teks-teks sastra yang sesungguhnya, [...]

  9.    Benarkah Pelajar Kita “Rabun” Sastra? « JALUR LURUS on Agustus 28, 2007 6:37 pm

    [...] memiliki “talenta” dan minat serius terhadap sastra. Apalagi, sastra hanya merupakan mata pelajaran yang “dinunutkan” pada pelajaran bahasa. Lantaran statusnya yang hanya sekadar “nunut”, tidak mengherankan jika apresiasi [...]

  10.    Kang Sakri Weblog » Blog Archive » Benarkah Pelajar Kita Mengidap “Rabun” Sastra? on Agustus 29, 2007 5:51 am

    [...] pembelajarannya “hancur” dan babak belur. Lebih-lebih pembelajaran apresiasi sastra. Para siswa tidak diajak untuk mengapresiasi (baca: memahami dan menikmati) teks-teks sastra yang sesungguhnya, [...]

  11.    Kang Sakri Weblog » Blog Archive » Benarkah Pelajar Kita Mengidap “Rabun” Sastra? on Agustus 29, 2007 5:53 am

    [...] memiliki “talenta” dan minat serius terhadap sastra. Apalagi, sastra hanya merupakan mata pelajaran yang “dinunutkan” pada pelajaran bahasa. Lantaran statusnya yang hanya sekadar “nunut”, tidak mengherankan jika apresiasi [...]

  12.    suparto brata on September 19, 2007 9:43 am

    Memang Sastra Jawa perlu adanya kreativitas, inovasi, kalau tidak akan punah dan mati

  13.    arul on Desember 18, 2007 2:07 am

    *terpanggil trekbek*
    salut pak, moga dunia pendidikan tetap memperhatikan lingkungan.
    btw jumat bersih itu masih ada ngak pak?
    kalo bisa tetap diadakan, itu satu2nya aplikasi dalam mendidik siswa untuk lingkungan.

  14.    Tuti JR on Januari 14, 2008 5:21 am

    Saya sangat setuju kalau guru membudayakan aktivitas ngeblog, karena dengan ngeblog kita saling sharing dan bertukar informasi apa saja… tanpa harus bersusah-payah menempuh perjalanan yang tak menentu…. Dengan ngeblog… dalam hitungan detik sudah tersebar kepada pembaca dimanapun berada…. OK… selamat ngeblog!!!

  15.    auliahazza on Januari 14, 2008 6:04 pm

    kasihan anak-anak sekarang, tapi mau gimana lagi yach … kalau ga digituin pikirannya main melulu.

    Untung ditambah yach mata pelajaran yang diuji, jangan kayak kemarin masak selama 3 tahun sekolah, yang diuji cuma 3 mata pelajaran.

  16.    auliahazza on Januari 14, 2008 6:08 pm

    saya setuju juga para guru dikenalkan dengan blog dan aktivitas di internet. Guru harus maju 1 langkah bahkan lebih dibandingkan dengan murid-muridnya.

  17.    sunarno on Januari 17, 2008 8:19 pm

    Memang benar Pak indoktrinasi pada zaman sekarang berkonotasi negatif/kurang baik, tapi indoktrinasi itu juga tetap diperlukan. Jadi, menurut saya induktrinasi harus dibatasi sesuai dengan keperluannya.

  18.    noreha ibrahim on April 11, 2008 7:22 am

    anak-anak didik adalah generasi pewaris kepada agama, bangsa dan negara. Lantaran itu adalah menjadi tugas pendidik untuk menyampaikan mesej dan ajaran yang dapat menjadikan mereka seorang yang kuat dalam perjuangan di masa depan.

  19.    sawali tuhusetya on April 24, 2008 3:31 am

    Yups, sepakat banget, mas. idealnya seorang guru harus mampou bersikap seperti itu.

  20.    sawali tuhusetya on April 24, 2008 4:01 am

    @ sunarno:
    yups, sepakat pak narno. perlu disesuaikan pada saat yang tepat!

  21.    sawali tuhusetya on April 24, 2008 10:40 pm

    @ Tuti JR dan auliahazza:
    Yups, terima kasih suppoert dan dukungan terhadap aktivitas ngeblog di kalangan guru, semoga dunia pendidikan kita makin meningkat mutunya dg semakin banyaknya guru yang ngeblog.

  22.    alifahru on Nopember 5, 2008 9:58 pm

    alangkah majunya negara ini, bila sejak dini para guru menjelaskan pada muridnya akan arti sebuah kedisiplinan agar kelak bila menjadi pejabat tidak melakukan berbagai tindakan KKN yang sangat merugikan kepentingan orang banyak :)

  23.    ikhsan on Januari 4, 2009 9:46 pm

    membudidayakan kecintaan terhadap lingkungan memang di haruskan sejak dini apa lagi dijadikan kurikulum dalam pendidikan sekolah saya setuju…ngomong 2 kenjungi blog saya sebagai wujud kepedulian saya terhadap bumi dan berikan komentarnya….. saya tunggu
    teknisikomputer.blog.telkomspeedy.com

  24.    Une Sasmita on Maret 23, 2009 12:06 pm

    Pendidikan itu merupakan upaya manusia untuk memanusiakan manusia. Makhluk tuhan yang bisa mendidik dan dididik hanyalah manusia. Pendidikan sangat berkaitan dengan hati, dan pengajaran berkaitan dengan otak sedangkan keterampilan berkaitan erat dengan perangkat motorik. Manusia perlu dididik agar dia tahu dan mau melaksanakan aturan-aturan tata nilai. Dengan pendidikan, manusia mengetahui tentang sopan santun, hormat kepada orang tua dsb.

  25.    Mahesa on Juli 7, 2009 5:21 pm

    Hello everyone. Don’t worry about the world coming to an end today. It’s already tomorrow in Australia.
    I am from Norway and also now’m speaking English, tell me right I wrote the following sentence: “Looking in the women seeking women dating section if you curious by christine imamshahsome women are still in the closet when it comes to their sexual orientation.”

    Regards 8) Mahesa.

  26.    miko on Oktober 11, 2009 6:05 am

    sipp gan ma kasih ya atas infonya, n jangan lupa berkunjung ke blog saya ya!!!!

Name (wajib)

Email (wajib)

Situs web

Speak your mind

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image