<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Oemar Bakri &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://sawali.edublogs.org/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.edublogs.org</link>
	<description>Tempat Berbagi dan Bersilaturahmi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Mar 2009 20:39:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pembacaan Cerpen dan Diskusi Sastra</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-dan-diskusi-sastra/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-dan-diskusi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 13:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Acara tersebut digelar pada:
hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008
pukul; 09.00 WIB s.d. selesai
tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal
keterangan:
1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang
2. peserta mendapatkan sertifikat
3. peserta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008</p>
<p>pukul; 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal</p>
<p>keterangan:</p>
<p>1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang</p>
<p>2. peserta mendapatkan sertifikat</p>
<p>3. peserta mendapatkan 1 (satu) buah buku kumpulan cerpen</p>
<p>4. kudapan</p>
<p><span id="more-82"></span>Acara dikusi sastra ini akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan cerpen secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan cerpen akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-dan-diskusi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Unggulan dan Akselerasi, Sebuah Tragedi</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kelas-unggulan-dan-akselerasi-sebuah-tragedi/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kelas-unggulan-dan-akselerasi-sebuah-tragedi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[PROSES penerimaan siswa baru baik di tingkat SD, SLTP maupun SMU segera digelar. Bahkan sudah ada sekolah tertentu yang mendahuluinya. Proses penerimaan siswa tersebut akan segera dilanjutkan dengan penataan kelas sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Ada sekolah yang menerapkan pola kelas unggulan dan akselerasi. Namun pola-pola semacam itu hingga detik ini masih menjadi perdebatan di kalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">PROSES penerimaan siswa baru baik di tingkat SD, SLTP maupun SMU segera digelar. Bahkan sudah ada sekolah tertentu yang mendahuluinya. Proses penerimaan siswa tersebut akan segera dilanjutkan dengan penataan kelas sesuai dengan kemampuan peserta didik.</p>
<p align="justify">Ada sekolah yang menerapkan pola kelas unggulan dan akselerasi. Namun pola-pola semacam itu hingga detik ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli pendidikan.<br />
Adalah Prof Suyanto -Rektor Universitas Negeri Yogyakarta- dengan tegas menyatakan pengelompokan siswa secara homogen berdasarkan kemampuan akademik menjadi kelas superbaik, amat baik, baik, sedang, kurang, sampai ke kelas &#8220;gombal&#8221;, tidak memiliki dasar filosofi yang benar.</p>
<p align="justify"><span id="more-56"></span>Yang memprihatinkan, pengelompokan itu disertai program promosi dan degradasi. Siswa yang tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya bisa digusur dari kelas superbaik ke kelas sedang. Bahkan mungkin bisa meluncur ke kelas paling bawah, kelas &#8220;gombal&#8221;.</p>
<p align="justify">Secara psikologis, program yang mendiskriminasikan siswa bisa menimbulkan stigmatisasi pada siswa di kelas &#8220;gombal&#8221;. Mereka akan kehilangan rasa percaya diri.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Di pihak lain, siswa yang masuk dalam kategori kelas superbaik memiliki kecenderungan arogan, elitis, dan eksklusif. Pendek kata, pengelompokan siswa lebih banyak sesatnya dari pada manfaatnya.</p>
<p align="justify">Dalam proses pembelajaran, pengelompokan juga akan menumbuhkan perilaku instruksional yang bias dari guru kepada anak didiknya. Di kelas superbaik, guru bisa tampil penuh gairah karena munculnya fenomena positive hallow effect terhadap anak-anak berotak brilian. Sebaliknya, di kelas &#8220;gombal&#8221; guru cenderung masa bodoh akibat munculnya fenomena negative hallow effect terhadap kelompok siswa berotak pas-pasan.</p>
<p align="justify">Jika program itu terus dipertahankan, justru akan terjadi proses dehumanisasi secara sistematik di sekolah, karena tidak mencerminkan kehidupan masyarakat yang bercorak heterogen.</p>
<p align="justify"><strong>Penyubur Mediokritas</strong><br />
Namun, pendapat Prof Suyanto tidak sepenuhnya diamini oleh kelompok yang pro kelas unggulan. Prof Liek Wilardjo -fisikawan dari UKSW- justru berpandangan sebaliknya. Menurutnya, anak-anak berbakat dan berotak cemerlang perlu mendapatkan perhatian khusus agar mereka dapat menumbuhkembangkan talenta dan kecerdasannya.</p>
<p align="justify">Jika anak-anak berakat dijadikan satu dengan anak-anak yang lamban, mereka akan kehilangan semangat belajar karena jenuh dengan proses pembelajaran yang lamban. Sebaliknya, anak-anak yang kurang pandai akan mengalami kerepotan jika dibiarkan bersaing dengan siswa-siwa pintar.</p>
<p align="justify">Kelas heterogen justru akan mempersubur mediokritas, di mana anak-anak cemerlang tidak bisa mengembangkan talenta dan kecerdasannya, mengalami stagnasi dan pemandulan intelektual. Sementara anak-anak lamban hanya &#8220;jalan di tempat&#8221;.</p>
<p align="justify">Kekhawatiran bahwa siswa yang masuk dalam kelas &#8220;gombal&#8221; akan dihinggapi rasa minder dianggap terlalu berlebihan, karena baru berdasarkan asumsi yang belum diuji kebenarannya. Pengelompokan siswa lamban di dalam kelas tersendiri &#8211; seperti halnya yang terjadi di Inggris &#8211; justru diyakini dapat memudahkan penanganannya secara khusus.<br />
Pandangan Prof Liek Wilardjo senada dengan Conny R Semiawan (1992) tentang perlunya pengembangan kurikulum berdiferensiasi, di mana peserta didik yang berkemampuan unggul perlu mendapatkan perhatian khusus.</p>
<p align="justify">Menurut Prof Conny, kurikulum berdiferensiasi dapat mewujudkan seseorang sesuai dengan kemampuan yang ada padanya, dapat menghadapi masalah dan kompleksitas kehidupan yang berubah akibat peningkatan teknologi dan perubahan nilai-nilai sosio-kultural.</p>
<p align="justify">Pro-kontra tentang kelas unggulan semakin menarik disimak ketika belakangan ini juga muncul program yang hampir sama, yaitu kelas akselerasi, di mana anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi bisa menamatkan belajarnya lebih cepat. Misalnya, SLTP/SMU bisa ditempuh hanya dua tahun.</p>
<p align="justify">Persoalannya, apakah program kelas unggulan atau akselerasi mampu mendongkrak mutu SDM kita yang dinilai masih berada pada aras rendah? Apakah ada jaminan, anak-anak berotak cerdas yang jumlahnya hanya beberapa gelintir yang telah sukses menempuh program kelas unggulan, atau akselerasi mampu menjadi generasi cerah budi yang memahami dinamika hidup yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya? Jangan-jangan program kelas unggulan itu dibentuk hanya berdasarkan sikap latah.</p>
<p align="justify">Ingin meniru pendidikan gaya Barat, Inggris misalnya, dengan dalih untuk meningkatkan mutu SDM dan daya saing bangsa di tengah-tengah percaturan global, tanpa disesuaikan dengan konteks sosial-budaya masyarakat kita.</p>
<p align="justify">Kalau ini yang terjadi, dunia pendidikan kita telah lepas dari lingkaran dan dinamika kehidupan kontekstual yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Implikasinya, out-put yang dilahirkan oleh institusi pendidikan kita hanyalah generasi-generasi berotak brilian dan cerdas intelektualnya, tetapi miskin kecerdasan hati nurani dan spiritual. Pada akhirnya justru membikin mereka menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat bagaikan &#8220;rusa masuk kampung&#8221;. Tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya.</p>
<p align="justify">Problem-problem eksistensi kita, menurut Anton Naben (2001), adalah krisis moral yang merambah hampir di semua lini kehidupan dengan segala dampaknya. Kita amat membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual dan apresiasi tinggi terhadap nilai-nilai kejujuran, yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan. Yang menabur benih kerukunan bila terjadi silang sengketa, yang memberikan kepastian bila terjadi kebimbangan. Yang menegakkan kebenaran bila terjadi beragam bentuk penyelewengan dan kesesatan. Yang menjadi pembawa terang di tengah kegelapan hidup.</p>
<p align="justify">Saat ini, nilai-nilai kejujuran -meminjam istilah Abd. A&#8217;la (2002)- sudah menjadi moralitas bangsa yang tergadaikan. Budaya malu sudah nyaris hilang dari memori bangsa. Korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya marak terjadi di mana-mana. Perilaku keagamaan hanya sampai pada tataran ekstrinsik. Agama hanya dijadikan sebagai topeng untuk pencapaian kepentingan. Para elite pemimpin tidak bisa jadi teladan bagi anak-anak bangsa. Yang terjadi justru sebuah kebanggaan bila mereka mampu melakukan pembohongan publik sehingga terlepas dari jerat hukum yang mengancam mereka atas perbuatan korup yang telah dilakukan. Sementara itu di atas akar rumput, sentimen kesukuan dan etnis, anarkhisme yang dibungkus fanatisme keagamaan, main hakim sendiri, dan kekerasan lainnya menjadi adonan perilaku yang gampang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p align="justify"><strong>Pencerahan Peradaban</strong><br />
Dalam kondisi demikian, dunia pendidikan kita harus mampu memosisikan diri sebagai pencerah peradaban, menjadi media katharsis yang mampu memuliakan martabat kemanusiaan hakiki, di mana nilai-nilai kejujuran dan kesalehan hidup baik pribadi maupun sosial bersemayam dan bernaung dalam hati nurani bangsa. Sekolah harus mampu menjadi ikon masyarakat mini, yang menggambarkan suasana dan panorama hidup bermasyarakat multikultur, di mana anak-anak banyak belajar menginternalisasi dan mengapresiasi perbedaan dan heterogenitas dalam segala aspeknya. Dengan demikian, setelah terjun ke masyarakat, mereka bisa tampil inklusif, egaliter, tidak elitis, memiliki empati, dan tidak besar kepala. Hal ini tentu sulit dicapai jika anak-anak yang tengah menuntut ilmu di bangku sekolah dikelompokkan secara homogen, sehingga mereka tidak pernah memiliki kesempatan belajar memahami dan menghargai perbedaan dalam arti yang sesungguhnya.</p>
<p align="justify">Pengalaman menunjukkan pendidikan yang lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat materialis, ekonomis, dan teknokratis demi mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa seperti yang gencar diteriakkan dengan lantang pada masa Orde Baru kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti.</p>
<p align="justify">Yang kita khawatirkan, kelas unggulan yang mendewakan kecerdasan intelektual semacam itu hanya akan melahirkan tamatan pendidikan yang cerdas, pintar, dan terampil, tetapi tidak memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang memadai. (33)<br />
(Suara Merdeka, Selasa, 2 Juli 2002)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kelas-unggulan-dan-akselerasi-sebuah-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen Teror sebagai Bahan Ajar</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerpen-teror-sebagai-bahan-ajar/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerpen-teror-sebagai-bahan-ajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 11:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerpen-teror-sebagai-bahan-ajar/</guid>
		<description><![CDATA[(Bedah cerpen Triyanto Triwikromo)
&#160;
Layakkah cerpen-cerpen yang meneror dan mengelaborasi kekerasan menjadi bahan ajar di sekolah? Pembacaan cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo yang terhimpun dalam antologi terbarunya, Pintu Tertutup Salju (Bentang Budaya, 2000), oleh Agung Wibowo dan Evi Idawati di aula Depdiknas Kendal, Minggu (28 Mei 2000), agaknya pantas untuk untuk menstimuli kemunculan pertanyaan tersebut. Lebih-lebih auidensinya pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">(Bedah cerpen Triyanto Triwikromo)</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Layakkah cerpen-cerpen yang meneror dan mengelaborasi kekerasan menjadi bahan ajar di sekolah? Pembacaan cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo yang terhimpun dalam antologi terbarunya, Pintu Tertutup Salju (Bentang Budaya, 2000), oleh Agung Wibowo dan Evi Idawati di aula Depdiknas Kendal, Minggu (28 Mei 2000), agaknya pantas untuk untuk menstimuli kemunculan pertanyaan tersebut. Lebih-lebih auidensinya pada umumnya pengajar sastra di sekolah.<br />
<span id="more-26"></span>Agung yang membacakan cerpen “Cinta Tak Mati-mati” memang tidak saja mampu menunjukkan kekuatan Triyanto yang mengungkap tema peradaban yang “sakit”, tapi sekaligus meneror penikmatnya dengan tragedi kemanusiaan lewat “sihir-imajinasi” yang ia akesentuasikan dari kata demi kata. Demikian pula yang dilakukan Evi dengan “Megatruh Percumbuan”. Jadi, tak pantaskah cerpen-cerpen itu disajikan sebagai bahan apresiasi sastra bagi siswa? </p>
<p>“Tak mudah menjawabnya,” kata Sawali Tuhusetya, cerpenis dan guru SLTP 2 Pegandon yang menjadi pembicara pada diskusi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kendal dan Depdiknas Kendal itu. Menurut pendapatnya, banyak ide dalam cerpen Triyanto yang menjungkirbalikkan logika awam. “Namun, bukankah cerpen apa pun bisa kita ajarkan. Toh kita bisa melakukan pemberontakan secara kreatif.”</p>
<p>Realitas Fiksi<br />
Meski demikian, lanjut Sawali, diperlukan kedewasaan, kearifan, dan kebijaksanaan guru dala, menyikapi cerpen tersebut. “Guru sastra perlu menyadari benar bahwa realitas cerpen Triyanto adalah realitas fiksi.”</p>
<p>Dalam diskusi yang dipandu oleh Kunadi Jusyak itu, Sawali juga mencatat, meski cerpen-cerpen nya sarat potret ketimpangan sosial dan tema peradaban yang “sakit”, seperti kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, ketidakadilan, dan korupsi, Triyanto tak kehilangan greget estetika. “Di tangannya ceceran darah bisa menjadi adonan kisah yang begitu manis, bunyi letusan psitol dan ledakan bom bisa berubah menjadi jalinan orkestra musik yang rancak dan harmonis.”</p>
<p>Selain itu, kata Sawali, cerpen-cerpen Triyanto menampakkan sebuah dekonstruksi ideologi cerpen konvensional. “Plot ceritanya penuh kejutan, tokoh-tokohnya imajiner, dan latarnya tidak dibatasi sekat ruang dan waktu.”</p>
<p>Namun, dia juga mencatat, Triyanto masih punya kebiasaan “memaksakan” pergulatan ide-ide besarnya ke dalam cerpen. “Akibatnya, meskipun terinspirasi oleh fakta-fakta sosial yang muncul ke peukaan, hasil maksimal yang ia capai ialah konfigurasi fragmen-fragmen seperti sebuah sketsa kehidupan.”</p>
<p>Bosan Kekerasan<br />
Bagaimana tanggapan cerpenis asal Salatiga ini? “Saya sebenarnya juga sudah tidak bangga dengan cerpen yang berisi teror kekerasan. Sebab, realitas sosial saat ini jauh lebih keras dan meneror ketimbang yang ada pada realitas fiksi,” kata cerpenis yang menyusun antologi cerpen terbarunya itu bersama Herlino Soleman yang kini tinggal di Jepang.</p>
<p>Karena itu, menurut pendapat Triyanto, harus ada semacam shock therapy terhadap pembaca. “Ketika fakta jauh lebih menghentak ketimbang imajinasi, kita mesti beranjak dari ‘teror’ gaya lama. Ketika pembaca telah mendapatio berita yang seragam tentang kekerasan, semestinyalah pengarang menyajikan daya kejut. Dan itu bisa dilakukan, misalnya, lewat pengadegan awal yang mengentak,” katanya (Sucipto Hadi Purnomo).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerpen-teror-sebagai-bahan-ajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ancaman</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/12/ancaman/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/12/ancaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 01:26:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/12/ancaman/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Sawali Tuhusetya
 Jam di tembok ruang tamu menunjuk angka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki –entah dari mana datangnya—sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Daraha Minranti mendesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja. 
“Selamat pagi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Cerpen Sawali Tuhusetya</p>
<p align="center"> Jam di tembok ruang tamu menunjuk angka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki –entah dari mana datangnya—sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Daraha Minranti mendesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja. </p>
<p><span id="more-16"></span>“Selamat pagi, Nyonya!” sapa lelaki itu tersenyum. Tampak deretan giginya yang kotor. Mulutnya seperti menyemburkan hawa busuk. Miranti tergagap. Tenggorokannya tercekat seperti ada beban yang menyumbatnya. Napasnya sesak. Dadanya naik-turun.</p>
<p align="center">Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit, teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan, bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidig. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas! Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki –termasuk suaminya—mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin. Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.</p>
<p>Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampok.  Sungguh mengerikan!</p>
<p>Kemarin, ia juga membaca, beberapa perampok beraksi dalam sebuah bus yang melaju kencang di tengah kota. Sopirnya diancam dengan kalungan clurit. Barang milik penumpang dijarah. Dua penumpang yang nekad melawan mengalami luka parah terkena sabetan clurit sebelum akhirnya sekarat meregang nyawa. Darah muncrat di kaca bus. Para penumpang menjerit ketakutan.</p>
<p>Kemarin lusa dan kemarinnya lagi, Miranti juga membaca berita perampokan di toko emas, di pasar swalayan, di rumah penduduk, dan di tempat-tempat lain yang menjanjikan kerincing duit. Hampir setiap hari, koran selalu berwarna merah oleh darah para korban perampokan. Miranti semakin bergidig, cemas, dan takut. Tiba-tiba saja, hidungnya mencium bau kematian. Peluh dingin semakin berleleran di permukaan kulitnya yang halus.</p>
<p align="center">“Dalam wujud saya seperti ini, saya percaya Nyonya sudah lupa dengan saya!” sergah lelaki kurus itu yang kini sudah duduk di hadapan Miranti. Wanita bertubuh sintal itu tersentak. Gugup. Ia ingin secepatnya lari dari tatapan liar lelaki dekil itu.</p>
<p>“ Saudara jangan pura-pura mengenalku! Lebih baik saudara segera pergi dari rumahku sebelum aku terlebih dahulu mengusir saudara!” sahut Miranti mencoba memberanikan diri dengan nyali yang dikumpulkan di tengah kecemasan dan ketakutannya. Lelaki itu menyeringai seperti serigala lapar yang ingin menerkam mangsanya.</p>
<p align="center">“Baik, saya akan segera pergi! Tapi tunggu dulu! Tidakkah nyonya ingin berkenalan dengan saya?”. Miranti gusar. Sorot mata lelaki itu semakin liar saja. Miranti merasa muak.</p>
<p>“Cepat katakan!”</p>
<p align="center">“Sabar dulu, Nyonya! Pertanyaan Nyonya hanya sebatas itu dan tak ingin mencoba mengenali saya?”</p>
<p>Mata Marini melotot. Ia merasa dipermainkan. Andai saja punya kekuatan untuk menabrak lelaki dekil itu, pastilah tangan atau kakinya melayang, menggebug lelaki kurus itu.</p>
<p align="center">“Baiklah Nyonya! Tampaknya Nyonya lebih mementingkan maksud kedatangan saya ketimbang mengenal siapa saya! ucap lelaki itu dengan nada tinggi. “Saat ini juga saya mohon Nyonya berkenan menyediakan uang dua juta!” Miranti tertegun. Dugaannya benar. Lelaki itu tak lebih dari seorang penjahat tengik.</p>
<p align="center">“Gila! Segampang itukah saudara menodongku? Huh! Lebih baik saudara angkat kaki secepatnya sebelum lebih dulu polisi menangkap saudara!” Miranti berdiri. Kecemasan dan ketakutannya menggumpal menjadi rasa muak. Cepat-cepat ia mengangkat gagang telepon. Tapi belum sempat menemukan nomor telepon, lelaki kurus itu berjingkat membuntutinya. Tangan kurusnya melolos sebuah belati tajam.</p>
<p>“Saya ingin tahu apakah jari tangan Nyonya masih punya kekuatan untuk menekan nomor telepon!” desis lelaki kurus itu sembari menempelkan belati di leher Miranti. Wajah Miranti memucat. Tangannya gemetar. Gagang telepon yang dipegangnya luruh dengan sendirinya. Matanya nanar. Ia mengalami ancaman serius. “Sedikit saja bergerak, leher Nyonya putus! Saya terpaksa nekad, sebab Nyonya tidak berusaha mengenal siapa saya!”</p>
<p align="center">Pikiran Miranti gusar. Bik Supiyah yang diharapkan mampu meringankan beban yang menindih batinnya hanya bisa ngungun di ruang dapur. Mata perempuan tua itutampak berkaca-kaca. Ia tak bisa memahami betapa selalu saja ada manusia yang ingin menguasai manusia lainnya.</p>
<p align="center">“Baiklah! Tapi turunkan dulu senjatamu!” rintih Miranti ketakutan. Belati luruh pelan-pelan. Miranti merasa lega. “Siapa sebenarnya saudara?”</p>
<p>“Saat ini pertanyaan itu menjadi tidak begitu penting! Cepat ambil uang itu!” gertak lelaki kurus yang tiba-tiba bagaikan sosok iblis yang menyimpan kekejaman tak terduga.</p>
<p align="center">Miranti segera menerobos kamar dengan kecemasan yang menyergap dadanya. Sejurus kemudian, tangannya sudah menggenggam segepok uang. Lelaki kurus dekil yang menunggu di dekat pinti kamar itu yersenyum sinis. Menyeringai. Gigi kotornya menyembul. Rambutnya yang gondrong acak-acakan sesekali dikibaskannya.</p>
<p>“Sekarang juga angkat kaki! Dan jangan sekali-kali menjamah lantai rumahku!” hardik Miranti. Lelaki kurus itu menciumi segewpok duit di tangannya.</p>
<p align="center">“Baik, Nyonya! Tapi jangan harap Nyonya bisa mencegahku untuk tidak kembali lagi menginjak rumah ini!” sahut lelaki itu sambil berdiri. “Dan ingat! Nyonya jangan mencoba lapor kepada siapapun, termasuk kepada suami Nyonya sendiri jika ingin selamat dari sekapan penjara!” lanjut lelaki dekil itu sebelum tubuhnya lenyap dari hadapan Miranti yang tergeragap. Kata-kata bernada ancaman itu dirasakan seperti berondongan peluru yang hendak meledakkan jantungnya. Penjara? Bukankah seharusnya dia yang layak tersekap di penjara lantaran telah memerasnya? Benak Miranti dihujani pertanyaan bertubi-tubi yang tak sanggup dijawabnya.</p>
<p>***</p>
<p>Sepekan kemudian, lelaki kurus itu datang lagi. Namun sudah tampil beda. Rambutnya yang sudah terpotong rapi. Wajahnya bersih. Pakaian yang dikenakannya tampak licin. Dada Miranti berdegup kencang.</p>
<p align="center">“Bukankah saudara itu, Kirno?”</p>
<p>“Tepat sekali! Sayalah Kirno yang harus mengakui secara paksa dosa yang telah Nyonya lakukan. Sayalah Kirno yang dipaksa menjadi penghuni penjara enam tahun lamanya karena dituduh telah membunuh Rukmini, pembantu Nyonya!”</p>
<p align="center">Mata Miranti tiba-tiba saja berubah nanar. Tubuhnya terasa beku. Beberapa saat lamanya, perempuan cantik itu seperti terperosok ke dalam pusaran air yang membetot kekuatannya. Limbung.</p>
<p align="center">Kirno, lelaki kurus itu, seperti meraih kemenangan mutlak dalam sebuah pertandingan. Wajahnya berubah garang. Ia lolos belati tajam untuk mengerok kumisnya seperti sengaja menakut-nakuti Miranti. Di mata Miramti, Kirno tak ubahnya Malaikat Maut yang siap merengkut nyawanya. Entah apalagi yang hendak dilakukan Kirno terhadap dirinya. Tiba-tiba saja pandangan mata perempuan itu berputar-putar. Gelap. Wajah Rukmini &#8211;pembantu yang dibunuhnya akibat kepergok mencuri kalung—yang begitu tersiksa sesekali melintas lewat lorong benaknya yang kacau. Miranti ketakutan. Ngeri. Tak berdaya. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/12/ancaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
