<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Oemar Bakri &#187; Esai</title>
	<atom:link href="http://sawali.edublogs.org/category/esai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.edublogs.org</link>
	<description>Tempat Berbagi dan Bersilaturahmi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Mar 2009 20:39:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kelas Unggulan dan Akselerasi, Sebuah Tragedi</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kelas-unggulan-dan-akselerasi-sebuah-tragedi/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kelas-unggulan-dan-akselerasi-sebuah-tragedi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[PROSES penerimaan siswa baru baik di tingkat SD, SLTP maupun SMU segera digelar. Bahkan sudah ada sekolah tertentu yang mendahuluinya. Proses penerimaan siswa tersebut akan segera dilanjutkan dengan penataan kelas sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Ada sekolah yang menerapkan pola kelas unggulan dan akselerasi. Namun pola-pola semacam itu hingga detik ini masih menjadi perdebatan di kalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">PROSES penerimaan siswa baru baik di tingkat SD, SLTP maupun SMU segera digelar. Bahkan sudah ada sekolah tertentu yang mendahuluinya. Proses penerimaan siswa tersebut akan segera dilanjutkan dengan penataan kelas sesuai dengan kemampuan peserta didik.</p>
<p align="justify">Ada sekolah yang menerapkan pola kelas unggulan dan akselerasi. Namun pola-pola semacam itu hingga detik ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli pendidikan.<br />
Adalah Prof Suyanto -Rektor Universitas Negeri Yogyakarta- dengan tegas menyatakan pengelompokan siswa secara homogen berdasarkan kemampuan akademik menjadi kelas superbaik, amat baik, baik, sedang, kurang, sampai ke kelas &#8220;gombal&#8221;, tidak memiliki dasar filosofi yang benar.</p>
<p align="justify"><span id="more-56"></span>Yang memprihatinkan, pengelompokan itu disertai program promosi dan degradasi. Siswa yang tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya bisa digusur dari kelas superbaik ke kelas sedang. Bahkan mungkin bisa meluncur ke kelas paling bawah, kelas &#8220;gombal&#8221;.</p>
<p align="justify">Secara psikologis, program yang mendiskriminasikan siswa bisa menimbulkan stigmatisasi pada siswa di kelas &#8220;gombal&#8221;. Mereka akan kehilangan rasa percaya diri.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Di pihak lain, siswa yang masuk dalam kategori kelas superbaik memiliki kecenderungan arogan, elitis, dan eksklusif. Pendek kata, pengelompokan siswa lebih banyak sesatnya dari pada manfaatnya.</p>
<p align="justify">Dalam proses pembelajaran, pengelompokan juga akan menumbuhkan perilaku instruksional yang bias dari guru kepada anak didiknya. Di kelas superbaik, guru bisa tampil penuh gairah karena munculnya fenomena positive hallow effect terhadap anak-anak berotak brilian. Sebaliknya, di kelas &#8220;gombal&#8221; guru cenderung masa bodoh akibat munculnya fenomena negative hallow effect terhadap kelompok siswa berotak pas-pasan.</p>
<p align="justify">Jika program itu terus dipertahankan, justru akan terjadi proses dehumanisasi secara sistematik di sekolah, karena tidak mencerminkan kehidupan masyarakat yang bercorak heterogen.</p>
<p align="justify"><strong>Penyubur Mediokritas</strong><br />
Namun, pendapat Prof Suyanto tidak sepenuhnya diamini oleh kelompok yang pro kelas unggulan. Prof Liek Wilardjo -fisikawan dari UKSW- justru berpandangan sebaliknya. Menurutnya, anak-anak berbakat dan berotak cemerlang perlu mendapatkan perhatian khusus agar mereka dapat menumbuhkembangkan talenta dan kecerdasannya.</p>
<p align="justify">Jika anak-anak berakat dijadikan satu dengan anak-anak yang lamban, mereka akan kehilangan semangat belajar karena jenuh dengan proses pembelajaran yang lamban. Sebaliknya, anak-anak yang kurang pandai akan mengalami kerepotan jika dibiarkan bersaing dengan siswa-siwa pintar.</p>
<p align="justify">Kelas heterogen justru akan mempersubur mediokritas, di mana anak-anak cemerlang tidak bisa mengembangkan talenta dan kecerdasannya, mengalami stagnasi dan pemandulan intelektual. Sementara anak-anak lamban hanya &#8220;jalan di tempat&#8221;.</p>
<p align="justify">Kekhawatiran bahwa siswa yang masuk dalam kelas &#8220;gombal&#8221; akan dihinggapi rasa minder dianggap terlalu berlebihan, karena baru berdasarkan asumsi yang belum diuji kebenarannya. Pengelompokan siswa lamban di dalam kelas tersendiri &#8211; seperti halnya yang terjadi di Inggris &#8211; justru diyakini dapat memudahkan penanganannya secara khusus.<br />
Pandangan Prof Liek Wilardjo senada dengan Conny R Semiawan (1992) tentang perlunya pengembangan kurikulum berdiferensiasi, di mana peserta didik yang berkemampuan unggul perlu mendapatkan perhatian khusus.</p>
<p align="justify">Menurut Prof Conny, kurikulum berdiferensiasi dapat mewujudkan seseorang sesuai dengan kemampuan yang ada padanya, dapat menghadapi masalah dan kompleksitas kehidupan yang berubah akibat peningkatan teknologi dan perubahan nilai-nilai sosio-kultural.</p>
<p align="justify">Pro-kontra tentang kelas unggulan semakin menarik disimak ketika belakangan ini juga muncul program yang hampir sama, yaitu kelas akselerasi, di mana anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi bisa menamatkan belajarnya lebih cepat. Misalnya, SLTP/SMU bisa ditempuh hanya dua tahun.</p>
<p align="justify">Persoalannya, apakah program kelas unggulan atau akselerasi mampu mendongkrak mutu SDM kita yang dinilai masih berada pada aras rendah? Apakah ada jaminan, anak-anak berotak cerdas yang jumlahnya hanya beberapa gelintir yang telah sukses menempuh program kelas unggulan, atau akselerasi mampu menjadi generasi cerah budi yang memahami dinamika hidup yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya? Jangan-jangan program kelas unggulan itu dibentuk hanya berdasarkan sikap latah.</p>
<p align="justify">Ingin meniru pendidikan gaya Barat, Inggris misalnya, dengan dalih untuk meningkatkan mutu SDM dan daya saing bangsa di tengah-tengah percaturan global, tanpa disesuaikan dengan konteks sosial-budaya masyarakat kita.</p>
<p align="justify">Kalau ini yang terjadi, dunia pendidikan kita telah lepas dari lingkaran dan dinamika kehidupan kontekstual yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Implikasinya, out-put yang dilahirkan oleh institusi pendidikan kita hanyalah generasi-generasi berotak brilian dan cerdas intelektualnya, tetapi miskin kecerdasan hati nurani dan spiritual. Pada akhirnya justru membikin mereka menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat bagaikan &#8220;rusa masuk kampung&#8221;. Tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya.</p>
<p align="justify">Problem-problem eksistensi kita, menurut Anton Naben (2001), adalah krisis moral yang merambah hampir di semua lini kehidupan dengan segala dampaknya. Kita amat membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual dan apresiasi tinggi terhadap nilai-nilai kejujuran, yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan. Yang menabur benih kerukunan bila terjadi silang sengketa, yang memberikan kepastian bila terjadi kebimbangan. Yang menegakkan kebenaran bila terjadi beragam bentuk penyelewengan dan kesesatan. Yang menjadi pembawa terang di tengah kegelapan hidup.</p>
<p align="justify">Saat ini, nilai-nilai kejujuran -meminjam istilah Abd. A&#8217;la (2002)- sudah menjadi moralitas bangsa yang tergadaikan. Budaya malu sudah nyaris hilang dari memori bangsa. Korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya marak terjadi di mana-mana. Perilaku keagamaan hanya sampai pada tataran ekstrinsik. Agama hanya dijadikan sebagai topeng untuk pencapaian kepentingan. Para elite pemimpin tidak bisa jadi teladan bagi anak-anak bangsa. Yang terjadi justru sebuah kebanggaan bila mereka mampu melakukan pembohongan publik sehingga terlepas dari jerat hukum yang mengancam mereka atas perbuatan korup yang telah dilakukan. Sementara itu di atas akar rumput, sentimen kesukuan dan etnis, anarkhisme yang dibungkus fanatisme keagamaan, main hakim sendiri, dan kekerasan lainnya menjadi adonan perilaku yang gampang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p align="justify"><strong>Pencerahan Peradaban</strong><br />
Dalam kondisi demikian, dunia pendidikan kita harus mampu memosisikan diri sebagai pencerah peradaban, menjadi media katharsis yang mampu memuliakan martabat kemanusiaan hakiki, di mana nilai-nilai kejujuran dan kesalehan hidup baik pribadi maupun sosial bersemayam dan bernaung dalam hati nurani bangsa. Sekolah harus mampu menjadi ikon masyarakat mini, yang menggambarkan suasana dan panorama hidup bermasyarakat multikultur, di mana anak-anak banyak belajar menginternalisasi dan mengapresiasi perbedaan dan heterogenitas dalam segala aspeknya. Dengan demikian, setelah terjun ke masyarakat, mereka bisa tampil inklusif, egaliter, tidak elitis, memiliki empati, dan tidak besar kepala. Hal ini tentu sulit dicapai jika anak-anak yang tengah menuntut ilmu di bangku sekolah dikelompokkan secara homogen, sehingga mereka tidak pernah memiliki kesempatan belajar memahami dan menghargai perbedaan dalam arti yang sesungguhnya.</p>
<p align="justify">Pengalaman menunjukkan pendidikan yang lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat materialis, ekonomis, dan teknokratis demi mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa seperti yang gencar diteriakkan dengan lantang pada masa Orde Baru kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti.</p>
<p align="justify">Yang kita khawatirkan, kelas unggulan yang mendewakan kecerdasan intelektual semacam itu hanya akan melahirkan tamatan pendidikan yang cerdas, pintar, dan terampil, tetapi tidak memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang memadai. (33)<br />
(Suara Merdeka, Selasa, 2 Juli 2002)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kelas-unggulan-dan-akselerasi-sebuah-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesusastraan Jawa Tengah Miskin Pemberontakan?</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kesusastraan-jawa-tengah-miskin-pemberontakan/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kesusastraan-jawa-tengah-miskin-pemberontakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kesusastraan-jawa-tengah-miskin-pemberontakan/</guid>
		<description><![CDATA[BUDI Darma pernah bilang jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya pengarang kita belum berbobot. Kutiplah keterangan dari pengarang dunia kaleber kakap. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Tentu Anda akan menjadi terkenal mendadak (1983:72).

Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">BUDI Darma pernah bilang jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya pengarang kita belum berbobot. Kutiplah keterangan dari pengarang dunia kaleber kakap. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Tentu Anda akan menjadi terkenal mendadak (1983:72).<br />
<span id="more-44"></span><br />
Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai &#8220;pasemon” terhadap ketahanan pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, &#8220;pemberontakan” hanya dilakukan untuk memburu ketenaran nama an-sich, tidak berbasiskan kultur penciptaan yang dengan sangat sadar dilakukan untuk melahirkan teks-teks kreatif yang bernilai. </p>
<p align="justify">Kedua, &#8220;pemberontaknn&#8221; bisa dimaknai sebagai upaya pengarang (baca: sastrawan) dalam melakukan perburuan kreativitas penciptaan yang lebih berbobot, sehingga mampu mengembuskan napas dan arus kesadaran baru lewat teks-teks sastra masterpiece sekaligus menyejarah. Atau lewat&#8221; pemberontakan&#8221; yang dilakukannya, sang sastrasvan sanggup menancapkan tonggak sejarah baru di tengah-tengah dinamika kesusastraan.</p>
<p align="justify">Hampir setiap angkatan sejarah mencatat kemunculan para “pemberontak&#8221; yang berupaya melakukan pembebasan &#8220;mitos&#8221; penciptaan teks-teks sastra. &#8220;Pemberontakan&#8221; yang mereka lakukan bukanlah sikap latah yang berambisi melambungkan namanya di tengah jagat kesusastraan, tetapi lebih berupaya mencari dan mencari dan menemukan bentuk pengucapan yang sesuai dengan tuntutan hati nurani dan kepekaan estetikanya.</p>
<p align="justify">Marah Rusli lewat Siti Nurbaya pada masa Balai Pustaka, Armyn Pane lewat Belenggu pada masa Pujangga Baru, Chairil Anwar lewat sajak “Aku&#8221; pada Angkatan &#8216;45, Sutarji Calzoum Bachri (penyair) lewat antologi O, Amuk, Kapak, atau Danarto lewat antologi Godlob pada era 1970-an adalah beberapa nama yang bisa dibilang sukses melakukan &#8220;pemberontakan&#8221; kreatif, sehingga bobot kesastraan mereka amat diperhitungkan dalam diskursus sastra kita. Tentu masih banyak pengarang lain yang dengan sangat sadar meniupkan roh dan semangat “pemberontakan” dalam karya-karya mereka.</p>
<p align="justify">Dalam sastra dunia, konon Albert Camus yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Sastra tahun 1957, sebenarnya juga seorang “pemberontak”. Lewat bukunya L’Home Revolte (Manusia Pemberontak), ia mengatakan, manusia perlu memprotes nasibnya. Bahkan, jika perlu ia harus memprotes seluruh makhluk dan kehidupan yang ada di dunia ini sesuai dengan kondisi yang ada (Atmosuwito, 1989). Ini artinya, &#8220;pemberontakan&#8221; kreatif yang dengan sangat sadar dilakukan oleh seorang sastrawan, baik dalam aspek muatan maupun aspek muatan, akan mampu menciptakan dan melahirkan teks sastra baru yang inovatif dan &#8220;monumental<br />
* * *</p>
<p align="justify">LANTAS bagaimana dengan kesusastraan Jawa Tengah? Harus diakui, kesusastraan Jawa Tengah hanya memiliki beberapa gelintir sastrawan yang dengan sangat sadar melakukan “pemberontakan&#8221; kreatif lewat teks-teks sastra yang diluncurkannya, bahkan bisa dibilang miskin &#8220;pemberontakan&#8221;. Sebut saja Ahmad Tohari, seorang ulama yang sukses mengeksplorasi dunia ronggeng daerah Banyumas lengkap dengan warna lokalnya yang khas &#8211;blaka suta dan cablaka&#8211;dalam triloginya Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Karyanya bisa &#8220;melegenda&#8221; lantaran keberaniannya melakukan &#8220;pcmbcrontakan&#8221; dengan mengungkap pernik-pernik kehidupan dan kultur sosiologis masyarakat grass-root yang ditabukan bagi kalangan santri.</p>
<p align="justify">Darmanto Jatman juga bisa dibilang sastrawan &#8220;pemberontak”. Lewat teks-teks puisinya, ia melakukan eksplorasi bahasa yang dipadukan dengan penggalian tema-tema manusia marginal, mayarakat paria, yang tak berdaya menghadapi bayang-bayang “adikuasa”. Demiikian juga sastrawan muda Triyanto Triwikromo lewat teks-teks cerpen terornya, bai yang terkumpul dalam Rezim Seks maupun Pintu Tertutup Salju (kumpulan cerpen bersama Herlino Soleman) yang berupaya melakukan eksplorasi tema-tema peradaban yang sakit dengan corak penyajian yang dinilai “nyempal” dari tradisi penciptaan cerpen yang pernah muncul di Jawa Tengah. </p>
<p align="justify">Keminiman potensi sastrawan “pemberontak”. Disadari atau tidak, telah membikin Jawa Tengah menjadi sebuah Indonesia yang tertinggal dalam wacana kesusatraan. Hingga kini belum muncul Ahmad Tohari atau Darmanto Jatman baru yang sanggup meluncurkan teks-teks sastra kreatif yang &#8220;menghebohkan&#8221; publik dan pencinta sastra. Dalam konteks ini, Ayu Utami lewat novel Saman-nya &#8211;yang lahir dari sebuah ajang festival&#8211; bisa dikatakan sebuah fenomenu. Nama yang selama ini (nyaris) tidak menampakkan gairah penciptaan teks-teks sastra lewat media cetak, tiba-tiba saja sanggup meluncurkan sebuah karya yang dipuji banyak pengamat.</p>
<p align="justify">Mengapa dinamika sastra Jawa Tengah menjadi demikian stagnan? Selain kemiskinan &#8220;pemberontakan&#8221; kreatif yang dilakukan oleh para pengarang, menurut hemat aya, ada beberapa asumsi yang bisa dikemukakan. Pertama, Jawa Tengah mungkin bukan ladang yang subur bagi pertumbuhan sastra. Gairah pcnciptaan dan kreativitas para pengarang memang terus mengalir di berbagai media cetak. Namun, hal ini belum bisa jadi bukti eksisnya kehidupan sastra di Jawa Tengah. Apalagi tradisi kritik, apresiasi publik, dan penghargaan finansial terhadap dunia kesusastraan masih berada pada aras yang amal rendah. Imbasnya, tidak sedikit sastrawan Jawa Tengah yang hengkang dari kampung halaman dan mengadu nasib ke kota lain. Jarang &#8211;lebih tepat dibilang langka&#8211; sastrawan Jawa Tengah yang benar-benar bisa hidup dari dunia yang digelutinya. Pameran dan peluncuran buku atau pentas dan diskusi sastra pun sepi peminat.</p>
<p align="justify">Kedua, kelangkaan penerbit yang memiliki idealisme untuk menggairahkan dan menghidupkan buku-buku sastra. Eksistensi seorang pengarang akan terasa makin &#8220;sempurna&#8221; bila tangannya telah mampu melahirkan sebuah buku. Namun, mewujudkan impian itu tidak mudah, apalagi penerbit mustahil mau menanggung risiko rugi jika kelak buku sastra yang diterbitkannya tak terjamah konsumen. Kondisi penerbitan yang terlalu berorientasi pada keuntungan itu jelas sangat tidak kondusif bagi idealisme pengarang.</p>
<p align="justify">Dan ketiga, mandulnya peran Dewan Kescnian (eq Komite Sastra) dalam memberdayakan kantong-kantong sastra di daerah. Keberadaan Dewan Kesenian tak lebih dari sebuah perpanjangan tangan birokrasi yang mengurus persoalan-persoalan administratif dan pendanaan ketimbang substansi dan esensi kesastraan. Akibatnya, potensi local genius kesusastraan tak bisa berkembang. Aktivitas sastra yang bisa dijadikan sebagai ajang untuk menggairahkan dunia penciptaan teks-teks sastra dan apresiasi publik tak pemah tersentuh. Dialog dan curah pikir kesastraan yang mestinya dilakukan secara serius dan intensif pun jarang dilakukan.<br />
* * *</p>
<p align="justify">JIKA kondisi di atas terus berlanjut, bukan mustahil nasib kesusastraan Jawa Tengah makin merana dan tak terurus. Dalam konteks demikian, dibutuhkan kesadaran kolektif semua pihak yang masih memiliki kepedulian untuk menghidupkan dunia sastra di provinsi ini.</p>
<p align="justify">Sebagai kreator, sastrawan dituntut memiliki nyali “pemberontakan&#8221; kreatif dalam melakukan perburuan, inovasi, eksplorasi aspek muatan hidup dan aspek penyajian sehingga mampu menancapkan tonggak yang &#8220;melegenda&#8221; dalam khazanah sastra. Jika proses ini berhasil, penerbit yang memiliki idealisme terhadap persoalan-persoalan budaya dan kemanusiaan pasti akan memburunya. Dimensi hidup dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat perlu terus digali dan diangkat ke dalam teks-teks sastra, sehingga mampu memancarkan aura kemanusiaan bagi penikmatnya. Fenomena dan perubahan semesta kehidupan memang akan terus tcrjadi. Dengan kepekaan intuitifnya, sastrawan diharapkan mampu menafsirkan dan menerjemahkan berbagai persoalan mikro dan detil kehidupan menjadi lebih bermakna.</p>
<p align="justify">Masih banyak persoalan sastra yang belum tergarap secara serius, termasuk upaya meningkatkan apresiasi publik terhadap sastra. Dunia pendidikan sebagai wadah pemberdayaan generasi perlu dijadikan ajang apresiasi dan &#8220;pembumian&#8221; kesusastraan. Bahkan jika perlu, mesti ada program &#8220;sastrawan masuk sekolah&#8221; &#8211;baik secara rutin maupun insidental&#8211; untuk membantu guru-guru sastra yang selama ini dianggap gagal menanamkan apresiasi sastra kepada peserta didiknya. Nah! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/kesusastraan-jawa-tengah-miskin-pemberontakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Cerpen Dicemari Limbah Politik</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-cerpen-dicemari-limbah-politik/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-cerpen-dicemari-limbah-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-cerpen-dicemari-limbah-politik/</guid>
		<description><![CDATA[Suara Merdeka edisi Minggu (18/2/2001) memuat cerpen berjudul “Dialog Kambing di Pasar Hewan” (DKPH) karya T. Atmawidjaja. Cerpen itu betutur tentang sekelompok kambing dengan beragam karakter di sebuah pasar hewan yang riuh. Dalam bahasa kambing yang sulit dipahami manusia, mereka (baca: para kambing) berdialog tentang nasib teman mereka yang disembelih, dijadikan tumbal akibat kebiadaban massa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Suara Merdeka edisi Minggu (18/2/2001) memuat cerpen berjudul “Dialog Kambing di Pasar Hewan” (DKPH) karya T. Atmawidjaja. Cerpen itu betutur tentang sekelompok kambing dengan beragam karakter di sebuah pasar hewan yang riuh. Dalam bahasa kambing yang sulit dipahami manusia, mereka (baca: para kambing) berdialog tentang nasib teman mereka yang disembelih, dijadikan tumbal akibat kebiadaban massa di Kendal beberapa waktu lalu. Darahnya digunakan untuk menandatangani pernyataan sikap sekelompok orang yang akan dikirim ke Jakarta sebagai respons terhadap situasi politik yang berkembang saat itu.<br />
<span id="more-43"></span><br />
Dalam situasi demikian, muncullah solidaritas para kambing, mengutuk kebiadaban massa yang telah memperlakukan sesamanya — yang punya hak hidup — secara keji dan tak bermoral.</p>
<p align="justify">&#8220;Bukan hanya kurang ajar, tetapi betul-bttul tak bermoral,&#8221; teriak seekor kambing dengan wajah memancarkan amarah, yang tentu saja disambut dengan yel-yel dan teriakan histeris. </p>
<p align="justify">Para kambing benar-benar geram dan marah. Mereka tidak rela sesamanya dibantai dan dibunuh secara biadab untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Di bawah komando seekor kambing yang berwibawa, mereka merumuskan pernyataan sikap yang intinya mengutuk ulah biadab itu. Aksi penyembelihan kambing tersebut dinilai telah melanggar susila, etika, tak berbudaya, berderajat lebih rendah daripada derajat kambing, dan bermartabat lebih kotor daripada kotoran kambing</p>
<p align="justify">Pada akhir pernyataan, mereka berdoa dengan kerendahan hati agar para pelaku diberi pikiran yang lebih rendah daripada pikiran kambing, serta mengimbau sesama kambing untuk tetap tenang, tidak dendam, dan tidak berbuat anarki. </p>
<p align="justify">Selain itu, dalam cerpen tersebut juga tersirat sikap sang penulis yang “mengutuk” habis-habisan para pelaku unjuk rasa di suatu daerah yang telah menebangi pohon untuk menghalangi arus lalu lintas.</p>
<p align="justify">“Mereka betul-betul telah dikuasai angkara murka. Hanya dirinya sendiri yang paling betul. Hanya pemimpinnya yang paling bersih, paling suci setelah Allah dan Nabi,” tutur sang penulis pada bagian narasi yang sarat dengan letupan emosi meledak-ledak.<br />
***</p>
<p>Bagi saya, cerpen &#8220;DKPH&#8221; tak lebih sebuah orasi yang hanya layak diluncurkan di lengah massa demonstran. Atau, meminjam istilah Eko Tunas, tergolong “sampah” dan “gombal”.<br />
Pertama, telah kehilangan substansi estetika yang niscaya tak boleh ditinggalkan dalam sebuah genre sastra (termasuk cerpen). Cerpen menjadi sarat dengan yel-yel, teriakan, dan hujatan vulger, miskin sublimasi nilai-nilai kemanusiaan universal. Dengan mengeksploitasi dunia kambing, “DKPH” telah terjebak menjadi sebuah &#8220;postulat&#8221; untuk menghakimi kelompok tenentu dengan penggiringan-penggiringan opini yang menyesatkan.</p>
<p align="justify">Bahasanya (nyaris) tak mengenal ungkapan dan idiom yang lebih subtil, inklusif, dan menghanyutkan. Bahkan, dalam banynk hal opini-opini sang penulis dalam cerpen diungkapkan secara berlebihan, vulger, dan miskin kontemplasi. Akibatnya, cerpen yang dihasilkan menjadi basah-kuyup oleh ungkapan-ungkapan kasar, umpatan, dan sumpah-serapah seperti orang &#8216;”frustrasi&#8221; yang tengah kebakaran jenggot.</p>
<p align="justify">Kedua, gagal merepresentasikan penghayatannya atas kondisi manusiawi sebagai entitas pertanggungjawaban moral sang penulis dalam menyikapi berbagai fenomena hidupo dan kehidupan yang mesti diendapkan lebih menep, sublim, patetis, dan penuh empati.</p>
<p align="justify">Esensi cerita pendek yang baik —menurut almarhum YB Mangunwijaya (1995)— adalah bagaimana sang penulis mampu mengolah kisah secara mendalam dan lewat suatu pengisahan peristiwa kecil yang kompak dapat bercahaya suatu pijar pamor kemanusiawian yang menyentuh, yang mengharukan, yang mengimbau pembaca mencicipi setetes madu manis atau racun pahit kemanusiawian sehingga pembaca seolah-olah terpaksa diam dengan hati yang lebih kaya.</p>
<p align="justify">Mungkin peristiwa yang dikisahkan hanya soal kejadian kecil, tetapi pada hakikatnya soal makro, universal. Muatan nilai dalam cerpen mestinya harus diungkapkan secara lebih subtil, menyentuh nurani, dan memperkaya dimensi hidup pembaca, bukannya menaburkan kebencian dan kemurkaan kepada pembaca. Mungkin sang penulis lupa kalau cerpennya akan dinikmati oleh para pembaca dengan berbagai ragam karakter dan emosinya.</p>
<p align="justify">Yang lebih celaka, sang penulis dengan enteng menyebut kota Kendal sebagai tempat terjadinya penjagalan kambing itu. Penyebutan wilayah teritorial tertentu sebagai sumber penindasan dan kesewenang-wenangan ke dalam sebuah cerpen — meskipun sebuah fakta— adalah sebuah &#8220;distorsi&#8221; yang bisa mengaburkan esensi teks sastra sebagai sebuah realitas fiksi yang semestinya lebih mengedepankan imajinasi dan intuisi sebagai sumber pengembangan ide.</p>
<p align="justify">&#8220;Distorsi&#8221; semacam itu bisa menjebak imaji publik pada generalisasi menyesatkan yang memberikan “stigma” komunitas orang Kendal.secara primordial scbagai orang-orang sadis dan tak bermoral.</p>
<p align="justify">Ketiga, kalau harus digolongkan ke dalam cerpen bergaya realis, &#8220;DKPH&#8221; tidak proporsional dan seimbang dalam memahami &#8220;derita&#8221; para kambing. Penafsiran &#8220;konyol&#8221; dengan memanfaatkan kambing-kambing untuk menghujat massa yang dinilai biadab dan tak bermoral hanyalah kegemaran seorang T. Atmawidjaja yang &#8220;gagap&#8221; dan dihinggapi cultural-shock dalam memahami perubahan sosial-politik yang tengah berlangsung.</p>
<p align="justify">Saya juga tidak setuju terhadap ulah para pengunjuk rasa yang anarkis, merusak, atau membakar fasilitas umum, apalagi menebangi pepohonan untuk menghalangi arus lalu lintas. Namun, sungguh naif jika T. Atmawidjaja &#8211;sebagai orang yang menggeluti dunia kepenulisan, yang notabene ingin ikut menyuarakan kebenaran dan keadilan&#8211; menafsirkan penyembelihan kambing scbagai perbuatan angkara murka, biadab, dan tak bermoral.</p>
<p align="justify">Siapa tahu, justru &#8211;dalam bahasa kambing tentu&#8211; kambing-kambing itulah yang telah merelakan dirinya menjadi kurban sebagaimana ketulusan Ismail menghadapi ayunan pedang ayahnya, Ibrahim? Lebih biadab mana jika dibandingkan dengan ulah pengunjuk rasa yang mengacung-acungkan pedang dengan mengatasnamakan agama, pembantaian sadistis para guru ngaji di Banyuwangi, atau peledakan bom di berbagai tempat?</p>
<p align="justify">Dan keempat, cerpen &#8220;DKPH&#8221; telah dicemari &#8220;limbah&#8221; politik keberpihakan pada kelompok tertentu, bukan berbasiskan pendekatan kemanusiaan universal. Apologi berlebihan sehingga menghujat kelompok lain dengan sebutan orang-orang biadab, kolot, kuno, kuper, tak tahu perkembangan dunia, atau kerasukan setan, makin jelas bisa ditebak sikap&#8221;politik&#8221; dan &#8220;ideologi&#8221; sang penulis. Bahkan, secara implisit, sang penulis ingin menempatkan dirinya sebagai &#8220;primus interpares&#8221;, penyuara kebenaran dan keadilan utama dengan menganggap kelompok lain sebagai orang-orang biadab dan tak bermoral.<br />
***</p>
<p>JIKA cerpen sudah dicemari oleh &#8220;limbah&#8221; politik keberpihakan, maka yang terjadi kemudian adalah pemberangusan nilai-nilai sastrawi yang senantiasa mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Dunia sastra mesti diseterilkan dari &#8220;virus-virus&#8221; politik agar tetap mampu menjadi watch dog yang jernih dan arif dalam menghadapi pembusukan budaya dan peradaban.</p>
<p align="justify">Dunia sastra tak boleh diselubungi oleh “jubah-jubah&#8221; politik yang mengotak-ngotakkan komunitas dan publiknya ke dalam berbagai kubu yang pada gilirannya hanya akan ikut menumbuhsuburkan sentimen sektarianisme, primordialisme, partikularisme, dan parokialisme.</p>
<p align="justify">Sudah terlalu lama rakyat di negeri ini tergencet oleh arogansi kekuasaan rezim yang korup dan otoriter. Kalau kini rakyat makin berani menyuarakan aspirasinya, itu mesti dimaknai sebagai sebuah keniscayaan scjarah yang wajar terjadi di sebuah negeri yang tengah mengalami masa transisi. Jangan terlalu latah para penulis dan sastrawan kita bilang bahwa rakyat itu kolot, kuno, primitif, kuper, atau tak tahu perkembangan dunia. Justru, kini sudah tiba saatnya para sastrawan kita benar-benar menjadikan rakyat sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek an-sich.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah penting, para sastrawan harus tetap memiliki komitmen dan dan semangat untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal secara utuh melalui teks-teks yang diluncurkannya.</p>
<p align="justify">Dengan demikian, teks sastra &#8211;meminjam istilah Hasif Amini (1996)&#8211; akan memancarkan nilai edukatif sebagai &#8220;panduan&#8221; dalam memasuki kompleksitas kejiwaan manusia, hubungan antarpribadi dan masyarakat, hingga alam semesta dan Tuhan, yang menghibur dan menawarkan pathos, nilai kearifan, kedalaman perenungan, dan menjadi semacam model-model perilaku yang dikandungnya.</p>
<p align="justify">Teks sastra yang demikian dalam pandangan Jacob Sumarjo dan Saini KM (1994) akan menjadikan pembaca sebagai manusia yang berbudaya (cultural man), yakni manusia yang responsif terhadap sikap arif dan luhur budi.</p>
<p align="justify">Sah-sah saja para penulis dan sastrawan kita terjun ke politik praktis atau menjadi pengikut aliran tertentu. Namun, jarak antara &#8220;warna&#8221; politik atau aliran tertentu dan teks sastra harus tetap terjaga sehingga tidak terkontaminasi oleh penggiringan-penggiringan opini yang menyesatkan dengan menjadikan teks sastra sebagai media penghujatan kelompok lain seprrti yang terjadi dalamcerpen&#8221;DKPH&#8221;.</p>
<p align="justify">Saya tidak tahu pertimbangan dan kebijakan macam apa yang digunakan oleh redaksi sehingga meloloskan begitu saja cerpen &#8220;DKPH&#8221; yang menurut saya tergolong sampah dan menyesatkan itu. Padahal, kalau ditilik titi mangsanya dibuat di Brebes, 9 Februari 2001. ini artinya tenggang waktu antara pengiriman naskah, penyortiran, dan pemuatan terbilang &#8220;luar biasa&#8221;aingkat. Namun, saya tidak berpretensi menjadikan opini yang saya lontarkan sebagai sebuah kebenaran, bahkan saya berharap akan muncul apologi dan opini lain terhadap cerpen “DKPH” dengan beragam argumentasi yang lebih cerdas dan kritis. ***<br />
(Suara Merdeka, 4 Maret 2001)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-cerpen-dicemari-limbah-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Romantika, Logika, dan Religiusitas</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/romantika-logika-dan-religiusitas/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/romantika-logika-dan-religiusitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/romantika-logika-dan-religiusitas/</guid>
		<description><![CDATA[Nurdien H Kistanto, Sajak-sajak Orang Desaku, IKIN dan Penerbit Undip, Semarang 1996, V+45 halaman.
PROF. A. Teeuw pernah mengatakan puisi tak akan pernah tercipta dalam suasana kosong. Artinya, puisi akan senantiasa diwarnai oleh visi, persepsi, dan obsesi penyairnya dalam memandang kehidupan. Penyair bebas memilih gaya pengucapan sesuai dengan kepekaan intuitifnya.
Oleh karena itu, meskipun objekmya sama jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Nurdien H Kistanto, Sajak-sajak Orang Desaku, IKIN dan Penerbit Undip, Semarang 1996, V+45 halaman.</p>
<p>PROF. A. Teeuw pernah mengatakan puisi tak akan pernah tercipta dalam suasana kosong. Artinya, puisi akan senantiasa diwarnai oleh visi, persepsi, dan obsesi penyairnya dalam memandang kehidupan. Penyair bebas memilih gaya pengucapan sesuai dengan kepekaan intuitifnya.<br />
<span id="more-42"></span>Oleh karena itu, meskipun objekmya sama jika ditulis penyair berheda akan menghasilkan gaya ucap puisi yang berbeda pula. Dengan kata lain, membaca puisi sama halnya dengan membaca kehidupan pribadi pengarangnya, membaca pandangan hidupnya atau membaca falsafah hidup yang dianutnya. Membaca Sajak Orang-orang Desaku (SOOD) karya Nurdien Kistanto setidaknya kita akan dihadapkan pada keadaan-keadaan semacam itu. </p>
<p align="justify">Ada 30 judul puisi disajikan dalam SOOD. Ditulis dalam kurun waktu dua dasawarsa (1976-1996), baik yang sudah diterbitkan di berbagai koran, majalah, dan antologi puisi di Se-marang, Bandung, Jakarta, dan Brunei, maupun yang belum diterbitkan. Terbagi dalam tiga fase penciptaan, yakni fase I (1976-1979), fase II (1980), dan fase III (1981-1996).<br />
Kalau kita tinting seluruhnya, ada tiga dimensi pokok mewarnai puisi-pui.si tersuhut, yakni romantisme, logika, dan religiusitas. Semua itu menggambarkan potret diri penyair dalam menggumuli hidup dan kehidupannya.</p>
<p><strong>Romantisme</strong><br />
Pada fase I (1976-1979), romantisme menjadi dimensi yang sangat kuat dan kental membayangi puisi-puisinya. “Saya Taburkan”, “Siapa Bilang”, atau “Catatan Seorang Pecinta Alam”, jelas menampakkan emosi-emosi purba — meminjam istilah Bambang Supranoto — itu. Bahkan, dalam “Pantai Kartini”, Nurdien terjebak pada pengungkapan romantisme yang terkesan cengeng. Diksinya meluncur seperti romantisme remaja yang tengah dilanda asmara. //Kemelut telah terkikis massa, sejak gelombang pantai memaksa kita, untuk bercanda di tepi senja, Ke-napa kau jadi terharu, Kerna cemaskan kehadiranku?//</p>
<p align="justify">Namun, kita pun akhirnya paham, sebagai manusia biasa, ia tak akan sanggup menghindar dari sergapan pubertas, suatu fase yang mesti dijalaninya. Pada puisi yang lain, Nurdien mulai menampakkan kecenderungannya untuk &#8220;menyentuh&#8221; aspek intelektual setelah masuk dalam lingkaran akademik. Pada “Nusantara”, misalnya, jelas menampakkan opini seorang intelektual dalam menilai kondisi Indonesia &#8211;sebagai negara dunia ketiga yang mengalami pembauran antara tradisi denga teknologi modern. Berbicara soal soal Indonesis, sama halnya membahas zaman batu (dengan kepala-kepala suku), sekaligus teknologi maju dengan bangunan-bangunan kota dari baja, beton, dan kaca). </p>
<p align="justify">Pada fase kedua (1980), romantisme masih menjadi &#8220;warna&#8221; puisi Nurdien. Hanya saja, romantisme itu sudah diikuti kepekaannya dalam memandang sisi-sisi kehidupan yang cukup antagonis dengan idealismenya. Pada “Cita-cita Simbok”, misalnya, Nurdien sedikit menyelipkan kritik terhadap para sarjana yang cuma ngerti ilmu, tetapi kering filsafat masyarakat. &#8220;&#8230; dia cuma ngerti ilmu, lain mbok, padahal sarjana sekarang: b-e-r-a-t, wajib ngerti filsafat masyarakat, harus mumpuni, kata profesor Slamet.&#8221; Pada puisi ini pula, Nurdien menampakkan gagasan muluknya sebagai seorang penyair sekaligus intelektual yang ingin mengawinkan antara Timur dengan Barat, tradisional dan modern, antara sains dengan humaniora. &#8220;Kawinkan Sartremu dengan Iqbalku, kawinkan Einsteinmu dengan Baiquniku&#8221; </p>
<p><strong>Logika dan Religiusitas</strong><br />
Pada fase III (1981-1996), Nurdien mengalami transfigurasi total dalam proses kreativitasnya. Romantisme gaya ucap yang mendayu-dayu seperti pada fase I dan II berubah dengan gaya ucap &#8220;diafan&#8221; yang ingin mengatakan apa adanya secara lugas, tanpa simbol, maupun metafor yang konotatif.</p>
<p align="justify">Barangkali itulah yang menyebabkan Bambang Supranoto saat diskusi puisi “Nurdien Kembali” di Panggung Sastra Undip beberapa waktu lalu mengatakan bahwa puisi Nurdien telah mengindoktrinasikan pembaca. Pembaca tak lagi punya ruang gerak bebas untuk menafsirkan dengan berbagai kemungkinan karena telah terpasung oleh diksi yang monotafsir.</p>
<p align="justify">Kalau dicermati, tampaknya “stigma&#8221; Bambang Supranoto cukup beralasan. Banyak puisi Nurdien yang kering &#8220;sentuhan&#8221; estetika. Nurdien lebih banyak menggunakan gaya ucap logika dengan paradigma keilmuannya ketimbang gaya ucap estetik yang mengharubiru sanubari. Sentilan-sentilan kritiknya menjadi amat vulgar dan mengabaikan rima, idiom, simbolik, maupun metafor yang menjadi jatidiri puisi dengan sifatnya yang multitafsir. </p>
<p align="justify">Pada “Sajak Orang-orang Desaku” yang sekaligus menjadi titel buku ini, Nurdien ingin mengungkapkan religiusitas masih menjadi dimensi yang disuntukinya, meskipun pernah melanglang buana. Sayangnya, regiliusitas itu belum menjadi &#8220;ruh&#8221; puisinya. namun sekadar tempelan atau mosaik, seperti syair puji-pujian, Barzanji, atau doa-doa yang sering diucapkan orang-orang desanya.</p>
<p><strong>Kreativitas</strong><br />
Kalau boleh menilai buku ini, selain sampulnya tidak menarik dab tanpa embel-embel nama pengarang dan penerbit seperti yang pemah diungkap oleh Bambang Supranoto, tampaknya pada biografi penyair perlu dilengkapi dengan tempat dan tanggal lahir penyair. Ini penting, sebab sangat berguna untuk melacak proses kreativitas kepenyairan. Meski demikian, kehadiran SOOD, selain memperkaya khazanah Sastra Semarang khususnya dan Indonesia umumnya, jelas menjadi indikasi kepenyairan Nurdien tetap eksis. Bagi yang sudi melacak kepenyaian Nurdien, kehadiran SOOD akan sangat membantu. *** (Sawali Tuhusetya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/romantika-logika-dan-religiusitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Penyair Menjadi Seorang Narcisus</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-penyair-menjadi-seorang-narcisus/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-penyair-menjadi-seorang-narcisus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-penyair-menjadi-seorang-narcisus/</guid>
		<description><![CDATA[TAMPAKNYA, Nurdien H. Kistanto benar-benar &#8220;berang&#8221; atas serangan kritik yang ditujukan kepada kumpulan pusinya Sajak Orang-Orang Desaku (SOOD). &#8220;Keberangan&#8221; Nurdien bisa dimaklumi lantaran sebagai penyair, ia butuh legitimasi, butuh dipahami cara dia berkesnian. Bukan caci-maki, apalagi hujatan yang menafikan nilai-nilai keberadaan manusiawi dalam memahami proses kretivitasnya.

Bermula dari diskusi dalam acara “Nurdien Kembali” (17/7/1996) di aula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">TAMPAKNYA, Nurdien H. Kistanto benar-benar &#8220;berang&#8221; atas serangan kritik yang ditujukan kepada kumpulan pusinya Sajak Orang-Orang Desaku (SOOD). &#8220;Keberangan&#8221; Nurdien bisa dimaklumi lantaran sebagai penyair, ia butuh legitimasi, butuh dipahami cara dia berkesnian. Bukan caci-maki, apalagi hujatan yang menafikan nilai-nilai keberadaan manusiawi dalam memahami proses kretivitasnya.<br />
<span id="more-41"></span><br />
Bermula dari diskusi dalam acara “Nurdien Kembali” (17/7/1996) di aula Fakultas Sastra Undip, Bambang Suparanoto, seorang penyair yang didaulat sebagai pembicara, mulai membedah puisi-puisi Nurdien yang terkumpul dalam SOOD, setelah Nurdien usai membaca. Dengan vokal khasnya yang kalem, namun menukik tajam, Bambang menilai bahwa puisi-puisi Nurdien telah kehilangan metafora. Diksinya terlalu verbal, sehingga tidak memberikan kemungkinan-kemungkinan penafsiran (multitafsir) yang menjadi “ruh” puisi. Akibatnya, ungkap Bambang, penikmat terindoktrinasi dengan gaya ucap yang demikian lugas.</p>
<p align="justify">Memahami penilaian Bambang yang demikian “keras”, pada akhir diskusi, Nurdien tidak berkenan. Penyair yang juga antropolog ini menilai bahwa Bambang sangat subjektif dan emosional dalam menganalisis puisi-puisinya. Miskin teori, bombastis, dan pengetahuan Bambang, lanjut Nurdien, hanya sebatas metafora.</p>
<p><strong>Objektivitas</strong><br />
Dari peristiwa tersebut, paling tidak ada dua substansi yang layak dicatat. Pertama, penyair menjadi &#8220;alergi&#8221; tcrhadap penilaian dan kritik yang kasar, keras, dan tidak manusiawi, sebab telah dianggap sebagai ulah pelecehan dan penghinaan yang tidak beradab, yang tidak ada upaya penghargaan dan legitimasi seorang penyair dalam berkesenian. </p>
<p align="justify">Kedua, pengamat (kritikus) cenderung menggunakan &#8220;kacamata&#8221; personal, sehingga tingkat objektivitas dan akseptabilitasnya diragukan. Apalagi pengamat tersebut sama-sama penyair. Akibatnya, karya orang lain terkesan &#8220;dipaksakan&#8221; untuk memenuhl selera estetik dan gaya ucap pribadinya. Imbasnya, kritik puisi yang esensinya diharapkan dapat menjembatani kepentingan kreator dengan publik menjadi nihil. Masing-masing bersikukuh untuk memegangi kebenaran visi dan persepsinya, tanpa ada upaya untuk memahami dan menghargai bagaimana orang lain nerproses kreatif dalam pergulatan seni dan budaya. </p>
<p align="justify">Tampaknya, fenomena ini membenarkan jargon klasik bahwa penyair cenderung menjadi seorang narcisus dalam memahami eksistensi penyair lain. Artinya, seorang penyair cenderung berpretensi bahwa karyanya sendirilah yang layak memperoleh nilai plus.<br />
Penghakiman Bambang terhadap SOOD, jelas menunjukkan kecenderungan ke arah itu. Bambang terlalu bernafsu menggunakan &#8220;kunci&#8221; kepenyairjnnya dalam membuka &#8220;pintu&#8221; kepenyairan Nurdien. Bukan hal yang mokal jika wilayah kepenyairan Nurdien yang dianggap sakral terinjak-injak. </p>
<p align="justify">Menilai puisi, ternyata bukan perkara gampang. Membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian. Puisi tidak cukup dipahami secara leksikal, tetapi harus menukik hingga ke substansi eksternal yang mewarnai worldview dan visi penyairnya dalam memandang kehidupan. Menilai SOOD, misalnya, menjelajahi kehidupan pribadi Nurdien, lingkungan masyarakatnya, filsafat yang dianutnya, dan segala bentuk keterlibatan Nurdien dalam kapasitasnya sebagai antropolog jclas menjadi keniscayaan. Dengan kata lain, puisi tak cukup dinilai berdasarkan keliaran estetika yang mengharu biru sanubari, tanpa memahami muatan nilai moral, keilmuan, agama, filsafat, dan semacamnya yang tersirat di dalamnya. Dengan demikiaii, &#8220;patos&#8221; puisi yang menawarkan renungan, makna kearifan hidup, kejujuran, dan nilai-nilai purba ideal lainnya bisa tereguk dalam upaya menyiasati kehidupan yang semakin sarat rangsangan hedonis dan makin terpuruknya sifat-sifat puritan ini.</p>
<p align="justify">Bagaimanapun, objektivitas penilaian terhadap bentuk sastra apa pun harus tetap terjaga. Kritik harus tetap sanggup menawarkan rangsangan positif agar kreator semakin total dan intens dalam menggeluti dunianya sekaligus mempersubur khazanah batin publik dalam mengapresiasi sastra. Hal ini perlu dicatat, sebab para kreator selama ini masih “alergi” terhadap bentuk-bentuk penghakiman yang cenderung mematikan kreativitas sehingga tak lagi memandang kritik sebagai jembatan menuju pergulatan seni dan budaya yang lebih bermartabai, penuh sentuhan manusiawi.</p>
<p><strong>HB Jassin</strong><br />
Tampaknya sastra kita sangat membutuhkan kehadiran H.B. Jassin lain yang begitu suntuk dan concern menggeluti dunia kritik sastra tanpa berprpretensai untuk menjadi seorang kreator. Kritik sastra akan kehilangan kesejatiannya manakala sang kritikus sudah memasuki wilayah “sastra kreatif”, sebab kecenderungan untuk menjadi seorang narcisus sulit terelakkan. Penilaiannya menjadi menjadi sangat subjektif.</p>
<p align="justify">Meskipun demikian, seorang kreator tidak harus mcngalami stagnasi dan kevakuman kreasi ketika memperoleh hujatan. Justru harus dimaknai sebagai “vaksinasi&#8221; yang mampu mengebalkan jiwa dari segala bentuk pesimisme dan inferior. Dan bagi para penggagas dan penggeber agenda diskusi sastra mestinya tak asal comot memilih pcmbicara. Pertimbangan kapabilitas dan kedalaman wawasan sastranya, tak boleh dianggap remeh. Hal ini untuk menjaga agar luncuran-luncuran opininya tetap independen, lentur, dan akseptabel. Substansinya, agenda diskusi tak lagi menjadi ajang arogansi dan penelanjangan kreativitas. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/jika-penyair-menjadi-seorang-narcisus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Harus Bilang “Brengsek”</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/tak-harus-bilang-%e2%80%9cbrengsek%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/tak-harus-bilang-%e2%80%9cbrengsek%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/tak-harus-bilang-%e2%80%9cbrengsek%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan untuk Kusprihyanto Namma)
Tulisan Kusprihyanto Namma di Suara Merdeka (21 April 1989) berjudul “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi) menarik disimak. Menurut pewmahaman saya, minimal ada dua hal yang ingin digarisbwahinya. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Denagn demikian, sajak bukan hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">(Catatan untuk Kusprihyanto Namma)</p>
<p align="justify">Tulisan Kusprihyanto Namma di Suara Merdeka (21 April 1989) berjudul “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi) menarik disimak. Menurut pewmahaman saya, minimal ada dua hal yang ingin digarisbwahinya. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Denagn demikian, sajak bukan hasil penjelajahan proses kreativitas yang intens.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Kedua, sulit menemukan antologi puisi yang mengandung ekspresi-ekspresi berbeda dan keliaran-keliaran yang mencengangkan karena penyair terbentur struktur birokrasi budaya kita yang cenderung “membatasi” daya jelajah dalam menuangkan kebebasan dan kegelisahan. Saya berusaha memberikan catatan atas asumsi-asumsi yang dilontarkan Kusprihyanto Namma agar tejadi suasana dialogis dalam upaya memberdayakan dinamika sastra Indonesia.</p>
<p><strong>Jadi Tradisi</strong><br />
“Pulchrum dicitur id apprensio”, kata filsuf skolastik, Thomas Aquinas. Adagium yang berarti “keindahan bila ditangkap menyenangkan” itu menyiratkan makna bahwa keindahan menjadi mustahil menyenangkan tanpa media sosialiasi. Keindahan (sajak) mokal bisa dinikmati orang lain tanpa publikasi.</p>
<p align="justify">Karena itu, jika penyair berusaha menembus barikade redaksi sastra-budaya di media cetak dalam memasyarakatkan obsesi visi dan estetisnya, harus dipahami sebagai upaya untuk memperoleh legitimasi kepenyairan. Dan itu sangat perlu dilakukan oleh seorang penyair. Saya yakin, apa yang mereka (penyair) tulis di koran, murni terlahir dari kepekaan nurani, hasil pergulatan daya jelajah kreativitas yang intens. Mereka tidak harus dicurigai sebagai manusia hipokrit yang cenderung menuruti kepuasan selera media massa. Sajak koran mereka tetap menunjukkan penjelajahan rasio akal budi dan budi nurani dalam transpirasi total kepenyairan.</p>
<p align="justify">Dorothea Rosa Herliany yang mencuat lewat antologinya “Kepompong Sunyi” pun hingga kini masih aktif meng-“koran’-kan sajak-sajaknya. Lirik Abdul Hadi WM juga bisa kita nikmati lewat berbagai media cetak. Demikian juga halnya karya-karya Linus Suryadi AG, Medy Loekito, Ghufron Hasyim –untuk menyebut beberapa nama—masih butuh legitimasi kepenyairan lewat koran.</p>
<p align="justify">Sosialisasi karya kreatif lewat media cetak nyaris menjadi tradisi dalam sastra kita. Pada dekade ’50-an, tradisi itu muncul melalui berbagai majalah. Malah, (almarhum) HB Jassin, Pamusuk Eneste, atau Satyagraha Hoerip –sebagai editor penerbitan buku—karya-karya para sastrawan yang tersebar di berbagai media cetak pun terbit menjadi sebuah buku.<br />
Kalaulah tradisi itu berlanjut hingga sekarang, harus dimaknai sebagai upaya penyair untuk tetap memiliki publik (massa) yang nyaris tersingkir oleh hiruk-pikuk teknologi di tengah peradaban global. Seandainya ada penyair yang memasyarakatkan sajak-sajaknya tidak melalui media cetak, dia tinggal menunggu idealisme itu terkubur bersama mimpi-mimpinya di tengah sergapan kemajuan zaman.</p>
<p align="justify">Penyair pun bagaikan “rusa masuk kampung”, lantaran sajak-sajaknya hanya akan menjadi deretan kegelisahan yang tak tersalurkan. Sajak tak bermakna tanpa publik.</p>
<p><strong>Pendanaan dan Etika</strong><br />
Ditawarkan langsung ke penerbit? Bukan hal yang gampang. Banyak faktor penghambat (jeopardizing factors). Satu di antaranya, pendanaan. Menurut pengakuan Panca Agni (Semarang) untuk menerbitkan Lubang Tanpa Dasar Gufron Hasyim, betapa ia harus rela tekor demi seonggok idealisme dan obsesi yang menggumpal. Untung saja, Suara Merdeka berkenan memasang iklan di buku itu.</p>
<p align="justify">Bagaimanapun penerbit tetap berorientasi bisnis. Untung-rugi menjadi tolok ukur demi hidup-matinya perusahaan. Mereka (penerbit) tak mau menanggung risiko dengan menerbitkan buku-buku sastra – hanya demi idealisme dan obsesi—yang tak menjanjikan limpahan materi.</p>
<p align="justify">Kalau toh ada penerbit semacam Balai Pustaka, Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara (Jakarta), Pustaka Firdaus (Jakarta), Sinar Baru dan Angkasa (Bandung), atau Panca Agni (Semarang), tidak sembarang karya sastra (sajak) bisa diterbitkan. Tulisan-tulisan yang teruji lewat media cetak tentu menjadi kriteria utama.</p>
<p align="justify">Jaminan nama pengarang juga menjadi kriteria yang tak bisa diabaikan. Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, “presiden” penyair Indonesia itu berhasil membukukan puisi-puisinya tanpa harus bersikutat dengan media cetak, berkat “pemberontakan”-nya pada “Peradilan Puisi” di Bandung (1974).</p>
<p align="justify">Di tengah para sastrawan, Sutardji dengan tenang mengejek sajak-sajak yang dimuat majalah Horison hanya sajak-sajak tak berbobot. Dengan kakinya, konon, dia mampu menulis sajak yang lebih bagus. Jadi, pemberontakan itulah yang melambungkan nama Sutardji sehingga dia demikian disegani kalangan penerbit. Zonder memberontak, jaminan nama Sutardji bukanlah apa-apa.</p>
<p align="justify">WS Rendra, F. Rahardi, atau Emha Ainun Nadjib tentulah nama-nama yang demikian tenang dan santun di mata penerbit, meski sajak-sajak mereka tak terekspose media cetak. Nama-nama mereka menjadi bagian “sugesti” pasar buku. Namun, nama-nama penulis yang masih terus berkutat dengan idealisme dan proese kreatif demi memburu jatidiri, bisa dipastikan sekadar dilirik. Bahkan, mereka harus menerima risiko: pulang sambil mengumpat. Padahal, saya yakin, sajak mereka juga mengandung ekspresi-ekspresi yang tampil beda dan keliaran-keliaran yang mencengangkan.</p>
<p align="justify">Penerbitan buku-buku “menentang arus” yang sarat keliaran-keliaran budsaya yang mencengangkan mokal terwujudkan. Kurang etis dan tidak pancasilais. Kepekaan rasa, nurani, dan “talenta” kebudiluhuran tetap menjadi ranah etika dan estetika yang harus dikukuhi oleh penulis dan penerbit, kecuali jika ingin seperti “Baladewa ilang gapie”, terpuruk di tengah ingar-bingar peradaban.</p>
<p><strong>Multitafsir</strong><br />
Mengenai sajak koran yang cenderung tidak berpanjang-panjang, ringkas, dan padat, saya pikir itulah hakikat sajak kalau tidak ingin terjebak atau malah berubah menjadi prosa. Sebab, seperti tesis Eka Budanta (1992:4), sajak adalah bentuk ringkas cerpen. Selain itu, sajak adalah karya sastra yang multitafsir. Ringkas dan padat, tetapi sanggup mencuatkan makna dalam berbagai dimensi dan visi, tergantung penafsiran. Tak aneh jika dalam antologi “In Solitude, Medy Lukito hanya membuat tujuh titik yang jaraknya kian merenggang (… . . . .) pada titel “Sajak Jarak”. Sah-sah saja.</p>
<p align="justify">Setiap penyair memiliki licentia poetica yang sangat pribadi dalam pergulatan kreativitas. Karena bahasa sajak demikian ringkas dan padat, secara implisit, sajak semacam itu sudah mengandung dekonstruksi nilai. Tak harus bilang “Brengsek!” ketika penyair menatap ketidakberesan di sekitarnya.</p>
<p align="justify">Pada akhirnya perlu dipahami, penerbitan buku hasil dokumentasi sajak yang termuat di media cetak adalah simbol eksistensi penyair. Setidaknya, kesan sastra kita adalah sastra borjuis –yang hanya dinikmati segelintir publik—pun tertampik. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/tak-harus-bilang-%e2%80%9cbrengsek%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karya Sastra yang Baik Tak Lepas dari Dimensi Hidup</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/karya-sastra-yang-baik-tak-lepas-dari-dimensi-hidup/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/karya-sastra-yang-baik-tak-lepas-dari-dimensi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 13:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/karya-sastra-yang-baik-tak-lepas-dari-dimensi-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah artikel yang cukup menggelitik disajikan oleh Suara Merdeka Minggu, 15 Oktober 1989 dengan judul “Kritik Sosial dalam Sdastra”. Menurut pemahaman saya, dalam artikel itu ada tiga hal yang ingin digarisbawahi oleh penulis artikel tersebut. Pertama, karya sastra yang mengandung amanat, tendens, bersifat edukatif, dan memberi nasihat kepada pembaca kurang proporsional dan berlebih-lebihan.
Kedua, sasatrawan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sebuah artikel yang cukup menggelitik disajikan oleh Suara Merdeka Minggu, 15 Oktober 1989 dengan judul “Kritik Sosial dalam Sdastra”. Menurut pemahaman saya, dalam artikel itu ada tiga hal yang ingin digarisbawahi oleh penulis artikel tersebut. Pertama, karya sastra yang mengandung amanat, tendens, bersifat edukatif, dan memberi nasihat kepada pembaca kurang proporsional dan berlebih-lebihan.<br />
<span id="more-39"></span>Kedua, sasatrawan tidak perlu puisng memikirkan kepincangan-kepincangan sosial yang menggelayuti masyarakat lingkungannya ketika berporses kreatif. Dan yang ketiga, karya sastra (khususnya puisi) haruslah mengutamakan estetika, meskipun harus mengabaikan unsur-unsur signifikan yang lain.</p>
<p align="justify">Ketiga ikwal itulah yang berhasil saya tangkap melalui artikel tersebut, sekaligus saya ingin mencoba untuk mengadakan sambung rasa dengan penulisnya. Ya, semacam dialog secara terbuka.</p>
<p><strong>Dimensi Kemanusiaan</strong><br />
Menurut pemahaman saya, sebuah karya sastra yang baik mustahil dapat menghindar dari dimensi kemanusiaan, komplit dengan segala thethek-mbengek yang bergelayut dengan masalah kehidupan manusia dengan segala problematikanya yang begitu majemuk. Kejadian-kejadian yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya dijadikan sebagai sumber ilham bagi para sastrawan yang kemudian ditarik dalam khazanah imajinasi untuk dihayati, direnungkan, diendapkan, kemudian disalurkan dalam wujud karya sastra. Dan saya pikir, seorang sastrawan pada umumnya mokal akan menghindari proses kreatif semacam itu.</p>
<p align="justify">Nah, beranjak dari konsep itu, maka manusia, masalah, dan lingkungannya itulah uang menjadi garapan para sastrawan. Oleh karena sumbernya berasal dari manusia, maka penggarapannya pun dikembalikan pada hakikat kehidupan manusia di alam semesta ini.<br />
Seorang sastrawan, kebanyakan juga seorang intelektual. Mereka memiliki daya penalaran yang tinggi, mata batin yang tajam, sekaligus memiliki daya intuitif yang peka sekali yang jarang ditemukan dalam diri orang awam. Dalam hal ini, karya-karya sastra yang lahir pun akan diwarnai oleh latar belakang sosiokultural yang melingkupi kehidupan sastrawannya.<br />
Suatu keabsahan tentu jika dalam karya sastra kita jumpai unsur-unsur ekstrinsik yang turut mewarnai karya sastra, seperti filsafat, psikologi, religi, gagasan, pendapat, sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang sunia. Karena adanya unsur-unsur ekstrinsik itulah yang menyebabkan mengapa karya sastra tak mungkin terhindar dari amanat, tendensi, unsur mendidik, dan fatwa tentang makna kearifan hidup yang ingin disampaikan kepada pembaca. Oleh sebab itu, kehadiran unsur-unsur tersebut berbarengan dengan proses penggarapan kara sastra.</p>
<p align="justify">Sastrawan berupaya untuk menyalurkan obsesinya untuk menyalurkan obsesinya yang begitu dahsyat mendesak-desak genderang nuraninya agar mampu dimaknai oleh pembaca. Visi dan persepsinya tentang wksistensi manusia di muka bumi agar bisa ditangkap oleh pembaca, agar pembaca paling tidak terangsang untuk tidak melakukan hal-hal yang berbau hedonis dan tidak memuaskan kebuasan hati. Dus, persoalan amanat, tendensi, unsur edukatif dan nasihat bukanlah hal yang terlalu berlebihan dalam karya sastra. Bahkan, kalau boleh saya bilang, unsur-unsur tersebut ,erupakan unsur paling esensail yang perlu digarap dengan catatan tanpa meninggalkan unsur estetikanya. Sebab, kalau sebuah tulisan hanya mengumbar pepatah-petitih sosial, kepincangan-kepincangan sosial, tanpa diimbangi aspek estetika, namanya bukan karya sastra, melainkan hanyalah sebuah laporan jurnalistik yang mengekspose kejadian-kejadian negatif yang tenagh berlangsung di tengah masyarakat.</p>
<p><strong>Peran Sastra</strong><br />
Barangkali kita ingat luncuran konsepnya Paulo Freire yang mengatakan bahwa rakyat seharusnya jangan hanya dijadikan sebagai objek karya sastra, tetapi justru harus dijadikan sebagai subjek. Pernyataan ini menyiratkan makna bahwasanya rakyat (baca: wong cilik) adalah sosok manusia yang paling berat dihimpit ketidakberdayaan. Oleh sebab itu, persoalan-persoalan yang menggelayuti wong cilik itulah yang perlu diungkap dalam karya sastra. Sanggupkah karya sastra mengentaskan ketidakberdayaan yang menghimpit rakyat? Secara langsung tidak memang. Akan tetapi, seperti kata Chairul Harun, setidaknya masyarakat pembaca mempunyai kemungkinan terangsang untuk melakukan penyadaran tentang pelbagai masalah manusia secara langsung dan sekaligus setelah membaca karya sastra yang memasalahkan problema sosial tersebut kemungkinan tidak dirasakan kehadirannya dalam kehidupan sosial masyarakat.</p>
<p align="justify">Nah, di sinilah peran sastra. Barangkali kita juga masih ingat pada insiden-insiden sekitar ’66. bagaimanakah ulah sastrawan pada masa itu? Meeka turun ke jalan-jalan dengan menyebarkan puisi-puisi penyemangat dalam upaya menggulingkan pemerintah Orde Lama sekaligus mengkritik penguasa yang membiarkan secara permisif semua kebobrokan moral yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin korup yang tak jujur. Dan bagaimana hasilnya? Karya sastra memang tidak langsung sekaligus memberikan perubahan-perubahan. Akan tetapi, ia menyemangati dan menyiasati kondiai zaman yang berdiri di belakang layar ketika kejadian-kejadian dalam masyarakat itu tengah berlangsung di layar kehidupan. Dan, akhirnya pemerintah Orde Lama berhasil ditumbangkan.</p>
<p><strong>Produk Budaya</strong><br />
Pada mulanya, karya sastra memang untuk dinikmati keindahannya, bukan untuk dipahami. Akan tetapi, mengingat bahwa karya sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka persoalannya menjadi lain. Karya sastra berkembang sesuai dengan proses kearifan zaman sehingga lama-kelamaan sastra pun berkembang fungsinya. Yang semula hanya sekadar menghibur, pada tahapan proses berikutnya karya sastra juga dituntut untuk dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Hal ini relevan dengan idiom sastra “Dulce et Utile” (menyenangkan dan berguna).</p>
<p align="justify">Memang, persoalan estetika tak mungkin dilepaskan dalam sastra. Akan tetapi, untuk etika, nilai-nilai moral, dan feneomena-fenomena sosial yang tengah bergolak di tengah masyarakat juga mokal. Jadi, keduanya sama-sama penting kehadirannya dalam karya sastra. Karya sastra yang hanya bertaburkan bias-bias keindahan hanya melambungkan khayal yang bombastis, zonder diimbangi adanya bias-bias sosial, sama saja kita berhadapan dengan rumah sakit yang megah, tetapi tak ada pasien yang dirawat. Kehadirannya tak bermakna. Sepi dan lengang seperti layaknya sebuah goa pertapaan seorang resi.</p>
<p align="justify">Nah, kalau demikian halnya, bukankah justru akan memperlebar jarak antara karya sastra dan publik. Kalau kondisinya semacam ini, kekhawatiran bahwa sastra Indonesia mengalami alenasi, terpencil dari masyarakatnya akan menjadi kenyataan. Sebab apa? Ketika pembaca membaca sebuah karya sastra paling-paling hanya perasaan senang dan terpesona melihat keelokan paras Dewi Ratih dan ketampanan Dewa Kamajaya dari khayangan yang menbuat kita menjadi iri dan cemburu.</p>
<p align="justify">Sastra tak lagi memburu pegangan nilai-nilai moral, kesetiakawanan soial, dan segala thethek-mbengek persoalan manusia. Dus, dapat ditarik sebuah sintesis bahwa selain aspek estetika (tipografi), karya sastra juga harus menampilkan aspek etika (isi) dengan mengungkap nilai-nilai moral, kepincangan-kepincangan sosial dan problematika kehidupan manusia beserta kompleksnya persoalan-persoalan humani. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/karya-sastra-yang-baik-tak-lepas-dari-dimensi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Rekaan Perkaya Batin Pembaca</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerita-rekaan-perkaya-batin-pembaca/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerita-rekaan-perkaya-batin-pembaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 12:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerita-rekaan-perkaya-batin-pembaca/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita rekaan yang penulis maksud adalah cerita rekaan yang ditulis berdasarkan khayalan, tetapi mengandung nilai-nilai sastra. Sednagkan, cerita rekaan yang digarap secara vulgar (kasar) tanpa mempertimbangkan bobot sastranya tidak termasuk dalam lingkup pembicaraan ini.
Seperti yang diungkapkan Rene Wellek dan Austin Warren dalam bukunya “Theory of Literature” (New York: 1956), sebuah cerita rekaan akan mengandung nilai-nilai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerita rekaan yang penulis maksud adalah cerita rekaan yang ditulis berdasarkan khayalan, tetapi mengandung nilai-nilai sastra. Sednagkan, cerita rekaan yang digarap secara vulgar (kasar) tanpa mempertimbangkan bobot sastranya tidak termasuk dalam lingkup pembicaraan ini.<br />
<span id="more-38"></span>Seperti yang diungkapkan Rene Wellek dan Austin Warren dalam bukunya “Theory of Literature” (New York: 1956), sebuah cerita rekaan akan mengandung nilai-nilai sastra jika memenuhi ciri-ciri: fiction (rekaan), imagination (daya angan), dan invenstion (penemuan). Dengan demikian, jika ada salah satu unsur ciri yang tidak digarap, maka cerita tersebut tidak memiliki bobot ditilik dari kansungan nilai-nilai sastranya.</p>
<p align="justify">Benarkah dengan banyakn membaca cerita rekaan batin seorang pembaca semakin kaya? Nah, untuk menjawabnya, mari kita mencoba melacaknya dari sudut pandang eksistensi penulis, cerita rekaan, dan publik (pembaca). Sebab, menurut pemahaman penulis, ketiga elemen tersebut membentuk satu keterkaitan yang padu sehingga membentuk satu sistem yang mokal dapat dipisahkan eksitensinya.</p>
<p><strong>Penulis</strong><br />
Seorang penulis mustahil berproses kreatif tanpa ada tendensi tertentu yang ingin dicapai lewat karyanya. Penulis memiliki semacam komitmen moral untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang buram. Nah, komitmen mereka kemudian disalurkan lewat media tulisan. Dari tulisan inilah akhirnya pembaca dapat menangkap visi pengarang dalam memandang dunia, latar sosiokultural, dan sejumlah pengalaman lain yang digunakan untuk membangun cerita sehingga muncul rasa kekaguman dan simpatik terhadap sang pengarang.</p>
<p align="justify">Pembaca melalui daya serapnya akan memberikan nilai lebih kepada pengarang yang benar-benar memiliki komitmen moral dalam upaya mengentaskan kondisi masyarakat yang buram melalui persoalan-persoalan yang digarap melalui ceritanya.<br />
Dengan demikian, batin pembaca akan tersusupi oleh gagasan, pendapat, sikap, dan keyakinan penulisnya yang secara sugestif mampu meluruskan sikap hidup pembaca yang nglempuruk sekaligus dapat menghindari segala rangsang hedonis yang cenderung memburu kepuasan ragawi.</p>
<p><strong>Cerita Rekaan</strong><br />
Melalui cerita rekaan yang telah berhasil disuguhkan sang pengarang, pembaca dapat mengidentifikasikan dirinya dengan bebas terhadap tokoh-tokoh dalam cerita sehingga pembaca memperoleh sentuhan manusiawi untuk menyiasati kehidupan yang kian pengap ini.</p>
<p align="justify">Kadang kala pembaca dibuat terpukau oleh lukisan-lukisan tokoh cerita yang amat majemuk jenisnya. Kemudian, pembaca berupaya untuk meneladani tokoh cerita yang berwatak manusiawi, lemah tetapi memiliki nilai lebih.</p>
<p align="justify">Selain itu, pembaca dapat menikmati adegan-adegan tertulis yang dapat menerbangkan alam pikirannya terhadap hal-hal yang tak mungkin dijangkau dengan pancainderanya. Dengan membaca buku “Catatan Harian” karangan Anne Frank, misalnya, batin pembaca diajak untuk menyiasati suka-deuka sebuah keluarga Yahudi yang terpaksa menyembunyikan diri di atas loteng sebuah rumah waktu pendudukan Jerman. Atau, pada saat membaca cerpen “Kisah Sebuah Celana Pendek”-nya Idrus, batin pembaca diajak untuk menyusupi lorong kehidupan wong cilik yang harus bergulat dengan kesengsaraan yang mencekiknya pada saat Jepang berkuasa setelah pecahnya Perang Pasifik tahun 1941. Orang-orang gehean mencurahkan perhatiannya pada persoalan politik, tetapi wong cilik harus meratapi nasibnya karena kelaparan. Dan, masih banyak cerita-cerita rekaan lain sanggup menyuburkan sikap humani pembaca dalam mengimbangi arus teknostruktur yang kian menggila.</p>
<p align="justify">Melalui bahasa dan pengolahan bahan dalam cerita rekaan, mata batin pembaca akan terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman baru yang begitu kompleks. Bahasa dalam cerita rekaan adalah bahasa bebas, bahkan dengan bebasnya pengarang berupaya untuk tidak terbelenggu oleh benturan dimensi ruang dan waktu sehingga sanggup mengekspresikan perasaannya dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca.</p>
<p align="justify">Bahan yang diolah pengarang pada umumnya adalah persoalan yang aktual, menarik, merangsang pembaca untuk merenungkan hakikat kehidupan manusia sesungguhnya sehingga bisa menumbuhkan wawasan dan pandangan baru bagi pembaca dalam menghadapi fenomena-fenomena hidup yang muncul ke permukaan. Dengan demikian, batin pembaca akan diwarnai oleh berbagai ragam pengalaman yang majemuk yang melingkupi sosok kehidupan manusia.</p>
<p><strong>Publik</strong><br />
Ada semacam kepuasan batin ketika publik berhadapan dengan sebuah cerita rekaan yang sarat dengan nilai-nilai susastra. Tanpa disadari, batin pembaca akan tersaluri oleh idiom-idiom falsafi yang mengungkap makna kearifan hidup, analisis watak manusia secara psikologis, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ragam sosial budaya yang melingkupi paguyuban masyarakat secara komunal, renungan-renungan religius, dan sebagainya.</p>
<p align="justify">Unsur-unsur multidisipliner ini akhirnya membuat mata batin pembaca menjadi tajam, khazanah batinnya semakin kaya akan berbagai ragam kehidupan manusia yang berkutat dengan segala macam persoalan yang dihadapi pada masa lampau, masa kini, atau masa yang akan datang.dari uraian di atas dapat kita tarik semacam garis kesimpulan bahwasanya dengan banyak membaca cerita rekaan yang berbobot sastra, batin pembaca semakin kaya, terisi oleh pengalaman-pengalaman baru yang unik yang sulit diperoleh dari realitas yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. *** (Sawali Tuhusetya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/cerita-rekaan-perkaya-batin-pembaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimensi Sosial dalam Sastra</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/dimensi-sosial-dalam-sastra/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/dimensi-sosial-dalam-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 12:56:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/dimensi-sosial-dalam-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah terlalu sering memang dimensi sosial dalam sastra ini diangkat ke permukaan sekaligus menjadi sebuah pembicaraan yang hangat. Namun, seperti dapat ditebak bahwa persoalannya justru kian kabur lantaran telah merembet ke berbagai ranah kreativitas para sastrawan sesuai dengan persepsi yang dikukuhinya. Para sastrawan makin getol mempertahankan visi personalnya masing-masing.

Munculnya dua kubu sastrawan Indonesia merupakan bukti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sudah terlalu sering memang dimensi sosial dalam sastra ini diangkat ke permukaan sekaligus menjadi sebuah pembicaraan yang hangat. Namun, seperti dapat ditebak bahwa persoalannya justru kian kabur lantaran telah merembet ke berbagai ranah kreativitas para sastrawan sesuai dengan persepsi yang dikukuhinya. Para sastrawan makin getol mempertahankan visi personalnya masing-masing.<br />
<span id="more-37"></span><br />
Munculnya dua kubu sastrawan Indonesia merupakan bukti bahwa di antara mereka tak kan pernah bertemu dalam satu titik kebersamaan. Dua kubu sastrawan ini di antaranya, pertama, sastrawan yang menjadikan aspek estetika sebagai bagian paling esensial dalam sastra—sonder diimbangi dengan munculnya ketimpangan-ketimpangan sosial dalam karya-karya mereka. Kedua, sastrawan yang merasa terpanggil untuk mengangkat ketimpangan-ketimpangan sosial sebagai bagian paling esensial dalam sastra sebagai produk budaya –tanpa meninggalkan aspek estetiknya.</p>
<p align="justify">Tanpa bermaksud melecehkan kubu yang pertama, maka kini sudah tiba saatnya untuk menjadikan masyarakat sebagai sumber ilham bagi para sastrawan dalam berulah-kreasi. Mengapa? Karena masyarakat kita masih banyak dihuni oleh eknum-oknum tak jujur yang senantiasa menggerogoti keutuhan citra masyarakat adil-makmu yang lambat namun pasti kalau tak segera diberangus akan menjadi kendala terwujudnya kondisi masyarakat yang ideal. Nah, beranjak dari sisi inilah akhirnya sastra yang bicara, selain bidang-bidang sosial yang lain. Lebih-lebih jika diingat sistem dan struktur masyarakat kita yang cenderung mendukung penguasa –mengkritik penguasa sama saja menggorok leher diri sendiri—praktis kritik-kritik langsung secara lisan bisa menimbulkan konflik relasi sosial yang riskan antara atasan dan bawahan, majikan dan kuli, dan sebagainya, dan sebagainya.<br />
Melihat celah-celah kebobroka semacam ini lewat sastralah salah sebuah medium yang dapat dicuatkan. Penulis akur dengan pemikiran Satyagraha Hoerip dengan Sastra Terlibat-nya dengan berlandas tumpu pada konsep bahwa sastra kita sepantasnya ikut menyelamatkan moral bangsa. Buat apa? Agar korupsi, manipulasi, menipu, memeas, dan sebagainya tak usah ikut-ikut mewaris ke generasi muda.</p>
<p><strong>Rakyat sebagai Subjek</strong><br />
Berangkat dari pemikiran Paulo Freire, maka masyarakat sebagai sumber ilham kreativitas susastra menjadi sangat relevam dalam upayanya memberikan pencerahan kondisi zaman. Freire bilang bahwa rakyat mestinya tidak hanya dijadikan sebagai objek karya sastra, melainkan justru sebagai subjek. Dengan bahasa lain bisa dikaakan bahwa susatra tidak hanya berbicara tentang dan untuk rakyat, tetapi juga berbicara dengan mereka.</p>
<p align="justify">Himpitan zaman yang mencekik rakyat, kemiskinan yang nyaris mengeringkan sumsum tulang, kebodohan yang merupakan sumber merajalelanya penipuan dan manipulasi, otoritas penguasa yang cendewrung “memuaskan kebuasan hati” (pinjam istilah Satyagraha Hoerip) serta kebobrokan fatalis lainnya merupakan kondisi yang seharusnya diakrabi oleh para sastrawan. Lebih-lebih berdasarkan pengamatan Soekanto bahwa kemiskinan menduduki urutan pertama selain kebodohan yang mengakibtakan timbulnya ketimpangan-ketimpangan sosial, maka sudah selayaknyalah kalau sastra berurun-rembug untuk menepiskannya ke tepi jurang.</p>
<p align="justify">Nah, apakah kalau sastra sudah gamblang-gamblangnya melabrak kemiskinan dan kebodohan masyarakat jadi terentas dari kebobrokan? Secara langsung tidak memang. Namun, seperti kata Chairul Harun, setidaknya masyarakat (pembaca) mempunyai kemungkinan terangsang untuk melakukan penyadaran tentang pelbagai masalah manusia, secara langsung dan sekaligus setelah membaca karya sastra yang mempermasalahkan problema sosial tersebut kemungkinan tidak dirasakan kehadirannya dalam kehidupan sosial masyarakat. Sastrawan pengarang novel Warisan yang berwarna lokal Minangkabau sekaligus pencetus konsep Sastra sebagai human control ini juga mengatakan bahwa sastra menjadi mustahil tanpa adanya persoalan manusia yang disentuhnya.</p>
<p align="justify">Oleh sebab itu, betapapun sebuah karya sastra bergelimang dengan tebaran estetika yang mengharubiru sanubari, tanpa ada persoalan humani yang disentuhnya, ia tak kan bermakna apa-apa dalam benak pembaca. Karya sastra hanya akan melambungkan khayal yang muluk-muluk tanpa ada koherensi makna kemanusiaan yang diluncurkannya. Padahal, menurut A. Teeuw, karya sastra merupakan a unified whole, yakni dunia bulat yang menunjukkan koherensi makna dengan dunia otonom yang minta untuk dinikmati demi sirinya sendiri sebagai aspek terpenting.</p>
<p><strong>Ronggowarsito Yunior</strong><br />
Kembali pada konsep Sastra Terlibat-nya Satyagraha Hoerip – atau Comitted Literature untuk menamai konsep yang dianut penulis Barat—sebenarnya telah dirintis sejak zaman pujangga besar Ronggowarsito dengan serat Kalatidha-nya yang melukiskan bobroknya moral para pejabat Jawa di masyarakat Surakarta Hadiningrat. Dus, masalah sosial dalam sastra sebenarnya telah mengusik kegelisahan pujangga zaman kerajaan yang dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan terhadap kondisi zaman yang penuh dengan ulah dan tingkah kemunafikan.</p>
<p align="justify">Berangkat dari titian historis inilah sudah selayaknya mulai terpikir untuk menghidupkan kembali suasana sastra yang hanya adem-ayem itu. Apalagi, kini kondisi politis telah memungkinkan untuk menghembuskan kembali adanya bias-bias sosial dalam sastra. Hal ini terbukti dengan dipakainya adagium: “Di zaman gila dan tak bermoral, seuntung-untungnya orang yang lupa masih untung orang yang ingat dan waspada” dalam sebuah forum resmi oleh penguasa negeri ini. Oleh sebab itu, seperti harapan Satyagraha Hoerip, tiba saatnya kini tampil Ronggowarsito-Ronggowarsito yunior untuk mengobarkan kembali ketimpangan-ketimpangan sosial, kebobrokan-kebobrokan moral, dan kenyataan korup lainnya dalam sastra. Tujuannya? Agar segala thethek-bengek praktik keculasan dan ketakjujuran –yang memanfaatkan kemiskinan dan kebodohan wong cilik—menjadi impas dari segala rangsang tingkah amoral.</p>
<p align="justify">Bagi para sastrawan yang menghamba pada “Dewa Estetika”, boleh jadi berang dengan luncuran-luncuran konsep semacam itu. Akan tetapi, mengingat bahwa susastra sebagai sebuah unicum yang hadir dengan kemandirian persepsi masing-masing sastrawannya, maka konsep-konsep di atas justru menjadi sah adanya. Bahkan, dengan adanya beragam persepsi yang majemuk sanggup menjadikan rimba sastra kita semakin kaya dan semarak. </p>
<p align="justify">Sastra dengan kondisi yang pluralis justru harus dimaknai sebagai dunia otonom yang mampu merambah ke berbagai versi yang tak terbatas dan bertepi, baik dari aspek bentuk (keindahan) maupun isi (amanat)-nya. Biarlah masing-masing kubu sastrawan berderap dan bertiarap sesuai komando zaman yang memolanya. Akan menjadi tidak sah jika tiap kubu berupaya menyerang dan meluncurkan bom guna mematikan pihak kawan yang dianggap lawan tanpa adanya teriakan komando.</p>
<p><strong>Paling Esensial</strong><br />
Boleh dibilang bahwa dimensi sosial dalam sastra merupakan aspek paling esensial tanpa ditunggangi oleh isme-isme tertentu. Seperti kita tahu bahwa sastra menjadi mokal tanpa adanya persoalan manusia yang disentuhnya. Manusia sebagai persoanal yang sekaligus sebagai bagian tak terpisahkan dari paguyuban masyarakat secara komunal merupakan persoalan adikodrati dan sudah laik menjadi komitmen sastrawan dalam menggarap masalah-masalah yang diahadapinya tatkala berproses kreatif. Oleh sebab itu, karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang muncul dalam kehidupan sosial masyarakat merupakan ulah dan pokal gawe manusia, maka pencerahan terhadap kondisi zaman yang buram harus dikembalikan kepada manusianya. Dalam hal ini lantaran sastrawan yang notabene memiliki kepekaan intuitif dan mata batin yang tajam, maka merekalah yang perlu mencairkan kondisi zaman dari kebekuan. </p>
<p align="justify">Hanya saja kita juga butuh sastra yang tidak melulu mengobarkan yel-yel dan protes yang gegap-gempita, tetapi harus dibarengi dengan poetika estetik yang sanggup menumbuhkan kesadaran ke dalam lubuk hati pembaca tanpa bermaksud menggurui. Sebab apa? Pembaca yang hanya disodori dengan pepatah-peitih sosial yang nggegirisi tak ubahnya pembaca bak membaca sebuah repertoir kejadian demonstrasi dan unjuk rasa yang vulgar sonder diimbangi dengan persepsi dan visi penulisnya.</p>
<p align="justify">Persoalan estetika memang tak bisa ditinggalkan oleh sastrawan. Pada awal mulanya, sastra tercipta untuk dinikmati keindahan estetiknya, bukan untuk dipahami. Namun, mengingat bahwa sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka akhirnya berkembang sesuai dengan proses zaman yang memolanya. Sastra diharapkan mampu memberikan sesuatu yang berguna di benak pembacanya, selain untuk dinikmati keindahan yang tercipta di dalamnya. Dus, dapat ditarik sebuah sentesis bahwa selain mengandung nilai-nilai yang kuyup keindahan, sastra harus pula diimbangi dengan persoalan-persoalan yang tengah berlangsung di tengah kehidupan masyarakat. Ya, dapat juga dibalik menjadi sebuh idiom: “Dimensi sosial dalam sastra harus diimbangi dengan poetika estetik. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/dimensi-sosial-dalam-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan Kristal Hakikat Danarto</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/menemukan-kristal-hakikat-danarto/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/menemukan-kristal-hakikat-danarto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 12:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/menemukan-kristal-hakikat-danarto/</guid>
		<description><![CDATA[(Sambung rasa dengan Bung Rosa Widyawan)
Sungguh tak terduga kalau tulisan saya “Menguak Absurditas Cerpen Danarto” (Wawasan Minggu, 26 Juni 1988) yang sekadar selentingan itu mendapatkan respon yang sangat menarik dari Bung Rosa Widyawan RP dengan judul “Tentang Cerpen Danarto: Absurditas Macam Apa?” (Wawasan Minggu, 4 September 1988). Ya, sebuah judul yang bernada retorika, namun justru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">(Sambung rasa dengan Bung Rosa Widyawan)</p>
<p>Sungguh tak terduga kalau tulisan saya “Menguak Absurditas Cerpen Danarto” (Wawasan Minggu, 26 Juni 1988) yang sekadar selentingan itu mendapatkan respon yang sangat menarik dari Bung Rosa Widyawan RP dengan judul “Tentang Cerpen Danarto: Absurditas Macam Apa?” (Wawasan Minggu, 4 September 1988). Ya, sebuah judul yang bernada retorika, namun justru menggelitik untuk dicarikan bias-bias jawabannya. Dengan munculnya tulisan itu, saya bermaksud mengadakan sambung rasa dengan Bung Rosa. Atau, boleh juga dibilang sebagai hak jawab saya atas pertanyaan yang diluncurkan Bung Rosa.<br />
<span id="more-36"></span><br />
Dalam tulisan itu, Bung Rosa meragukan sekaligus mempertanyakan sisi absurditas yang membayangi cerpen-cerpen Danarto. Bung Rosa akur jia abusrditas yang dimaksud adalah pemerkosaan terhadap hukum logika, sebab absurditas menimbulkan penafsiran yang luas, baik ditinjau dari segi teologi, filsafat, maupun seni. Kemudian, pada akhir uraian, Bung Rosa juga tidak sependapat dnegan pernyataan saya bahwa Danarto adalah seorang pembaharu dalam dunia cerpen Indonesia mutakhir &#8211;saya merujuk pendapat Korrie Layun Rampan dan Rayani Sri Widodo—sebab menurut Bung Rosa, cerita-cerita yang dipaparkan Danarto dalam cerpen-cerpennya sudah demikian akrab dalam gendang telinga pembaca.</p>
<p><strong>Kristal Hakikat</strong><br />
Benar memang yang Bung Rosa katakan bahwa absurditas bisa menimbulkan penafsiran yang luas, baik ditinjau dari segi teologi, filsafat, maupun seni. Namun, perlu juga kita garis bawahi bahwa absurditas yang kita bicarakan adalah absurditas yang membayangi cerpen-cerpen seorang Danarto yang tentu saja batas leingkupnya lebih sempit.</p>
<p align="justify">Sebagai penulis yang dilandasi alam pikiran moral panteistis yang meyakini bahwa segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan, Danarto telah menjadi begitu yakin bahwa tokoh-tokoh ciptaannya mampu menerobos dimensi ruang dan waktu yang pada akhirnya menemukan klimaks konfliknya di tengah-tengah pertarungan kehidupan maya di alam fana dengan ucapan: “Melihat wajah Tuhan” seperti kata Rintrik, “Aku bukan hidup dan bukan mati. Akulah kekekalan” seperti teriakan Abimanyu ketika maut menyongsongnya, ataupun “O, Pohon Hayatku”, desah perempuan bunting dengan nikmat setelah babaran.<br />
Momen-momen semacam inilah yang menggiring saya untuk mengatakan bahwa sisi absurditas dalam cerpen Danarto akan menjadi lain persoalannya jika dikaitkan dengan istilah absurditas dalam disiplin ilmu yang mahaluas itu. Sisi absurditas dalam cerpen-cerpen Danarto adalah hanya berfungsi sebagai arus-arus dalam menemukan krital hakikat, seperti kata Rayani Sriwidodo. Semacam prakatarsis melihat wajah Tuhan (1983:154).</p>
<p align="justify">Kristal hakikat macam apa? Sebagian besar cerpen Danarto yang bernada absurd nyaris berkaitan dnegan mau. Dalam “Dinding Anak”, misalnya, Bibit dikejar-kejar dan dipermainkan oleh Izrail si Malaikat Maut. Karena menjadi anak emas, maka sang ayah mengadakan tipu muslihat dengan mengganti nama Bibit menjadi Sruni. Namun, ternyata takdir berkehendak lain. Bibit keburu direnggut maut ketika namanya diubah menjadi Sruni. Atau, pada cerpen yang bertitel “!”, di mana sang ayah sebagai kepala keluarga sebuah keluarga modern mendapat serangan jantung yang hebat lantaran ulah anaknya yang badung. Namun, apa yang terjadi? Ketika seluruh anggota keluarga dirundung kesedihan setelah sang ayah dinyatakan mati oleh dokter, sang ayah justru mengalunkan lagu Come Back to Sorento dengan berdiri tegap di atas tempat tidur. </p>
<p align="justify">Suasana cerpen “Nostalgia” juga demikian. Ketika ajal menghadang karena dihujani busur-busur panah di sekujur tubuhnya dalam perang Bharatayuda, justru Abimanyu menerimanya dnegan erangan kenikmatan. Abimanyu malah tampak lebih gagah dengan busur-busur panah yang menancap di tubuhnya. Rupanya Bibit, sang ayah, dan Abimanyu yang dijadikan medium Danarto dalam menampilkan suasana absurd sebagai arus menuju kristal hakikat sebagai pengejawantahan dari takdir yang mokal bisa dimuslihati atau diingkari oleh manusia. Dan kristal hakikat yang diburu oleh patron tokoh cerpen Danarto adalah maut sebagai titian menuju penyatuan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).</p>
<p align="justify">Danarto memang bukanlah kaum eksistensialis Barat yang dengan radikalnya menyerap absurditas sebagai objek peneluran karya-karyanya. Akan tetapi, Danarto adalah seorang penulis yang dengan sangat sadar menjadikan sisi absurditas sebagai medium dalam menemukan kristal hakikat. Oleh sebab itu, Abimanyu akan lain halnya dengan Perken dalam “Royal Way”-nya Andre Malraux dalam menghadapi maut. Kalau Abimayu begitu menikmati songsongan maut. Sonder memberontak, tetapi Perken begitu berang dan memberontak ketika dihadang maut saat bertekad membentuk dan mengepalai sebuah negara Asia nun jauh di tengah rimba belantara Indocina. Ketika Sysiphus dikutuk oleh para dewa lantaran mengetahui rahasia para dewa yang harus mengangkat batu ke puncak gunung selalu gagal dengan peluh cucuran keringat berulangkali, barangkali ini sebagai pengejawantahan Albert Camus dalam menampilkan suasana absurditas yang dengan begitu kejam dan sadis memperlakukan Sysiphus. </p>
<p align="justify">Namun, Bibit dalam “Dinding Anak” milik Danarto begitu menurut, bahkan beriang ria dipermainkan oleh malaikat Izrail ketika bergelantungan di pohon yang tinggi menjulang pada malam hari. Sebab, Danarto sudah begitu yakin bahwa Bibit sudah saatnya menghadap Sang Pencipta.</p>
<p align="justify">Dalam kumpulan cerpen terbarunya Berhala yang memuat 13 cerpen, Danarto tak banyak mengambil imaji Yunani, Bharatayuda, Injil, maupun animisme Jawa. Tokoh-tokohnya pun kebanyakan berasal dari patron manusia lumrah yang manusiawi yang tak begitu memiliki kekuatan supranatural yang serba gaib seperti pada dua kumpulan cerpennya terdahulu. Danarto tak lagi mencomot tokoh-tokoh semacam Ahasveros, Salome, Kadal, Bekakrak, zat asam, maupun tokoh lain dari epos. Kalau toh itu ada, tokoh-tokoh semacam itu hanya sebagai digresi atau penyimpangan dari fokus cerita yang sebenarnya. Misalnya, tokoh “saya” yang berperan sebagai petrus alias penembak misterius dalam “Pundak yang Begini Sempit” tiba-tiba dilanda kegamangan yang hebat tatkala harus menyergap gali yang sedang berpcaran karena ia ingat Pandu dikutuk oleh kijang lantaran telah dibuhnya selagi sedang bermesraan. Ada juga tokoh malaikat dalam “Dinding Anak” yang senantiasa mempermainkan Bibit di pepohonan yang tinggi menjulang depan rumah.</p>
<p align="justify">Masih ada tokoh-tokoh lain yang punya kekuatan super, seperti tokoh ayah dalam “Langit Menganga” yang sanggup memusnahkan wadag manusia menjadi air, Wiwin dalam “Cendera Mata” yang sanggup memproduksi berpintal-pintal benang halus dari air matanya, tokoh Kyai dalam “Pageblug” yang sanggup menciptakan sebungkah es meluncur untuk memberantas pageblug, tetapi disalahpahami oleh para penjudi buntut dengan selalu mengejar bungkusan es yang terus meluncur itu. Namun, semuanya hanyalah digresi khas Danarto yang mengklaim tokoh-tokohnya denga kekuatan lebih.</p>
<p><strong>Bukan Pembaharu Tema</strong><br />
Benar yang Bung Rosa katakan bahwa cerita-cerita yang dipaparkan Danarto dalam crpen-cerpennya sudah demikian akrab dalam telinga kita, bahkan cerita-cerita semacam itu telah mbalung sumsum dan bernaung turba (meminjam istilah Rama Mangun) sejak zaman baheula. Akan tetapi, cerita itu hanya berlangsung dari mulut ke mulut secara lisan. Seandainya cerita semacam itu ada dalam bentuk tulis, barangkali belum maujud dalam bentuk cerpen seperti yang Bung Rosa contohkan dalam sekar “Dandang Gula” itu.</p>
<p align="justify">Barangkali yang ingin Bung Rosa katakan adalah bukan hal yang baru dari segi tema. Ini benar. Dan saya yakin Danarto bukanlah seorang pembaharu tema dalam khazanah cerpen Indonesia, sebab tema-tema yang disajikannya sudah tidak asing lagi bagi pembaca. Akan tetapi, ada beberapa segi yang terasa baru dalam khazanah cerpen Indonesia yang belu pernah dilakukan dan dimiliki oleh penulis-penulis sebelumnya. </p>
<p align="justify">Rayani Sriwidodo pernah menyatakan bahwa ada dua aspek yang menunjukkan corak baru dalam cerpen Danarto, yakni aspek penyajian yang memasukkan unsur puisi, musik, dan seni lukis dalam cerpen-cerpennya sehingga tampak efek puitis, musikal, dan artistik dekoratif, serta aspek muatan yang, yakni adanya tendensi moral patenistis yang meyakini ajaran bahwa segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan. Selain itu, jika kita membaca cerpen-cerpen Danarto akan tampak bahwa sebagian unsur intrinsik dan ekstrinsik banyak menampilakn corak baru. Dari unsur intrinsik, misalnya, corak baru tersebut terletak pada tokoh dan perwatakannya, alur/plot, dan setting.</p>
<p align="justify">Tokoh dalam cerpen Danarto adalah tokoh imajiner yang sanggup menerobos terhadap benturan dimensi ruang dan waktu, manusia super yang mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun. Hal ini tampak pada “Pundak yang Begini Sempit” yang menceritakan kegelisahan seorang petrus yang dalam setiap tugasnya senantiasa diikuti oleh makhluk berkerudung, bersayap, dan bermata banyak di sekujur tubuhnya yang dengan mudahnya menghilang kapan dan di mana saja. Atau, pada cerpen “Kecubung Pengasihan”, seorang perempuan bunting sanggup bertahan hidup hanya memakan kembang-kembang di taman. Dan masih banyak tokoh lain semacam itu dalam cerpen-cerpen Danarto yang berjumlah 28 judul dari tiga buku kumpulan cerpen tersebut. Pada alur, cerpen Danarto penuh dadakan, kejutan, dan surprise yang sulit diterapkan dengan model alur konvensional. Ending cerita bisa di awal, di tengah, atau di akhir, bahkan ada juga cerita yang tanpa akhir (never ending story).</p>
<p align="justify">Dari unsur ekstrinsik –usnur-unsur dari luar cerita yang turut mewarnai suasana cerita—juga menunjukkan corak baru, misalnya tendensi moral panteistis, doktrin sufi yang mengacu pada ajaran wahdat al-wujud serta visi lain dalam benak Danarto dalam memandang dunia.</p>
<p align="justify">Untuk mengakhiri sambung rasa ini, perkenankanlah saya mengutip salah sebuah monolog seorang perempuan bunting dalam “Kecubung Pengasihan” ketika melihat kulit rahimnya kian mengembang:</p>
<p align="justify">“O, rahim semesta. Demikian agungkah Engkau? Rahimku mengandung diriku sendiri, di manak aku bermain-main di dalamnya dengan tenteramnya.”<br />
Semarang,1988.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/07/15/menemukan-kristal-hakikat-danarto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
