<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Oemar Bakri &#187; multikultur</title>
	<atom:link href="http://sawali.edublogs.org/category/multikultur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.edublogs.org</link>
	<description>Tempat Berbagi dan Bersilaturahmi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Mar 2009 20:39:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Peranan Guru yang Dikebiri  Orang Tua Murid</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Melly Kiong
(Penulis Buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik, tinggal di Jakarta)
Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua  di sekolah  yang  menjadi  pengajar  sekaligus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oleh: Melly Kiong<br />
(Penulis Buku <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik</em>, tinggal di Jakarta)</p>
<p align="justify">Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua  di sekolah  yang  menjadi  pengajar  sekaligus pendidik  moral anak-anak kita. Tapi sungguh  ironis  keadaan yang berkembang sekarang di mana  seorang guru  untuk berbicara dengan murid saja  harus  berhati-hati dikarenakan  penyampaian  dari murid yang salah kepada orang tua bisa berakibat  fatal. Jadi, bagaimana  seorang guru bisa   menjalankan fungsinya  sebagai pendidik?</p>
<p align="justify">Kita kembali melihat  bagaimana  di zaman China  Kuno  dulu,  untuk mendapatkan seorang guru yang mau menerima  anaknya  sebagai murid, orang tua harus  bersusah-payah  mencari  dan bahkan menyembah  seorang guru. Dan begitu  mendengar  guru memukul anaknya, si orang tua  datang kepada guru tersebut  untuk memberi hormat, bahkan  hadiah sebagai ucapan terima kasih, karena  dianggap guru tersebut telah dengan sungguh-sungguh   dan sepenuh hati dalam mendidik serta  mengajari  anaknya menjadi manusia  yang berguna. Toh tidak pernah ada sejarah   di mana  murid yang pernah mengalami hal  tersebut  menjadi  dendam  kepada gurunya. Bahkan,  murid  sangat menghargai gurunya, karena mereka yakin   jasa gurunya untuk  keberhasilan hidupnya sangat luar biasa.</p>
<p align="justify"><span id="more-81"></span></p>
<p align="justify">Dan hal ini pun  pernah saya alami secara pribadi, tapi sudah dengan kapasitas yang berbeda  di mana  di kota kecil  di sebuah sekolah susteran  yang menerapkan  disiplin yang luar biasa di mana hanya terlambat  dalam hitungan  menit, kita dihukum harus mencabut sebidang  rumput   sampai bersih di bawah terik matahari atau membersihkan  WC. Pada saat itu rasanya kita  kesel sekali dengan  cara suster memberikan hukuman. Tapi jujur saja setelah  terjun di masyarakat   ternyata  disiplin yang  ditanamkan sangat bermanfaat  dan ternyata menjadi  nilai positif yang membuat daya  juang  kita  selangkah lebih maju serta  <em>mentality </em>persaingan  kita juga lebih siap.</p>
<p align="justify">Dan  terus terang saja saya pribadi sangat berterima kasih kepada Suster yang telah  memberikan kontribusi   yang luar biasa dalam keberhasilan menanamkan  disiplin di dalam  hidup saya, dan jujur saja  saya  sangat berharap sekolah  dan guru bisa memberikan  pendidikan yang  semestinya   yang tentunya   butuh  kerjasama  dan dukungan  yang baik  dari para orang tua murid tentunya.</p>
<p align="justify">Mari kita  kembalikan peranan guru sebagai pengajar dan pendidik  yang baik bagi anak anak kita. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revitalisasi Pendidikan Kemanusiaan</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/revitalisasi-pendidikan-kemanusiaan/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/revitalisasi-pendidikan-kemanusiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 14:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/revitalisasi-pendidikan-kemanusiaan/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika sendi-sendi kehidupan bangsa ini digoyang oleh berbagai macam aksi kekerasan, kerusuhan, anarkhi, destruktif, bahkan telah terkontaminasi “virus” disintegrasi sosial, kesadaran nurani kita mulai tersentuh akan pentingnya makna pendidikan hakiki. Banyak kalangan mulai melihat bahwa model pendidikan yang tidak berbasiskan kemanusiaan akan berdampak pada munculnya potensi konflik, chaos, dan ketegangan di tengah-tengah masyarakat.
Secara jujur mesti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketika sendi-sendi kehidupan bangsa ini digoyang oleh berbagai macam aksi kekerasan, kerusuhan, anarkhi, destruktif, bahkan telah terkontaminasi “virus” disintegrasi sosial, kesadaran nurani kita mulai tersentuh akan pentingnya makna pendidikan hakiki. Banyak kalangan mulai melihat bahwa model pendidikan yang tidak berbasiskan kemanusiaan akan berdampak pada munculnya potensi konflik, <em>chaos, </em>dan ketegangan di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p align="justify">Secara jujur mesti diakui, selama bertahun-tahun, dunia pendidikan kita terpasung di persimpangan jalan; tersisih di antara ingar-bingar ambisi penguasa yang ingin mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Pendidikan tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh lahir dan batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti. Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, perasaan, dan emosi. Akibatnya, apresiasi <em>out-put </em>pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran budi, dan budi nurani menjadi nihil. Mereka telah menjadi sosok pribadi yang telah kehilangan hati nurani dan perasaan, cenderung bar-bar, vandalistis, dan mau menang sendiri.</p>
<p><span id="more-79"></span></p>
<p align="justify">Yang lebih memprihatinkan, pendidikan dinilai hanya dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan melalui berbagai polarisasi, indoktrinasi, sentralisasi, dan regulasi yang tidak memihak rakyat. Keluaran pendidikan tidak digembleng untuk mengabdi kepada rakyat, tetapi telah dipola dan dibentuk untuk mengabdi kepada kepentingan kekuasaan <em>an-sich. </em></p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/4060_potretdiri.jpg" align="right" />Dalam konteks yang demikian itu, pendidikan kita setidaknya telah melahirkan manusia-manusia berkarakter oportunis, penjilat, hipokrit, hedonis, besar kepala, tanpa memiliki kecerdasan hati, emosi, dan nurani. Tidaklah mengherankan jika kasus-kasus yang merugikan negara, KKN, misalnya, justru sering melibatkan orang-orang berdasi yang secara formal berpendidikan tinggi. Ini artinya, secara implisit, model pendidikan kita selama ini setidaknya telah memiliki andil terhadap merajalelanya ulah KKN yang menyebabkan negara kita tergolong sebagai salah satu negara di dunia yang cukup tinggi tingkat korupsinya.</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Sementara itu, model pendidikan yang lebih memacu kecerdasan otak ketimbang emosi dinilai juga telah menimbulkan masalah tersendiri di lapisan masyarakat akar-rumput. Pendidikan dasar dan menengah yang idealnya mampu menjadi basis penyemaian dan penyuburan nilai-nilai luhur baku dan hakiki kepada siswa didik, menjadi sangat tidak berdaya akibat tidak relevannya antara tuntutan kurikulum dan kondisi lokal.</p>
<p align="justify">Bobot kurikulum yang telah dikemas secara monolitis dan sentralistis telah menyebabkan nilai-nilai kearifan lokal tidak bisa berkembang. Para peserta didik “dipaksa” menerima <em>cekokan </em>materi dan pengetahuan kognitif yang sangat jauh dengan pengalaman dan kenyataan mereka sehari-hari. Akibatnya, mereka menjadi kehilangan ruang berkreasi, kemerdekaan berprakarsa, dan mengembangkan jatidirinya. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru terjebak dalam atmosfer pendidikan yang kaku, membosankan, dan tanpa gairah. Suasana pendidikan yang kurang kondusif semacam itu jelas mengingkari makna dan hakikat pendidikan dalam memanusiakan manusia, membentuk manusia yang berpikir dan berjiwa merdeka, bebas dari tekanan dan paksaan.</p>
<p align="justify">Makna pendidikan yang hakiki merujuk pada sebuah kondisi yang mampu memberikan ruang kesadaran kepada peserta didik untuk mengembangkan jatidirinya melalui sebuah proses yang menyenangkan, terbuka, tidak terbelenggu dalam suasana monoton, kaku, dan menegangkan. Diakui atau tidak, pendidikan kita selama ini belum sanggup melahirkan generasi yang utuh jatidirinya. Mereka memang cerdas, tetapi kehilangan sikap jujur dan rendah hati. Mereka terampil, tetapi kurang menghargai sikap tenggang rasa dan toleransi. Imbasnya, nilai-nilai kesalehan, baik individu maupun sosial, menjadi sirna.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/kekerasan2.jpg" align="left" />Atmosfer pendidikan yang kurang kondusif semacam itu diperparah dengan situasi lingkungan yang serba permisif, apatis, dan masa bodoh. Pada sisi yang lain, institusi keluarga yang mestinya menjadi penanam nilai-nilai religi, kultural, dan kemanusiaan, dinilai juga telah tereduksi oleh berbagai kesibukan orang tua dalam memburu standar hidup dan gebyar materi. Persoalan pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan formal.</p>
<p align="justify">Beranjak dari konteks ini, memang tidak berlebihan kalau ada yang menilai bahwa maraknya konflik horisontal di berbagai penjuru tanah air seperti yang pernah, bahkan sering kita saksikan, salah satu penyebabnya ialah gagalnya institusi pendidikan dalam menjalankan fungsinya sebagai pencetak generasi yang utuh lahir dan batin. Dunia pendidikan dinilai hanya sarat muatan kognitif, teoretis, dan penalaran, tanpa menyentuh aspek-aspek humaniora. Persoalan-persoalan moral dan budi pekerti menjadi luput dari perhatian. Lahan pendidikan humaniora dipersempit, bahkan dikepras, sedangkan muatan materi yang mengedepankan akal dan penalaran diberi bobot terlalu berlebihan.</p>
<p align="justify">Setelah era reformasi mulai menunjukkan titik terang dalam menguak tabir politik, ekonomi, dan hukum, sudah tiba saatnya untuk mengurai simpul dasar yang memasung tubuh pendidikan kita. Setidaknya, harus ada “kemauan politik” untuk melakukan revitalisasi pendidikan kemanusiaan, yakni pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang tinggi tingkat apresiasinya terhadap sikap jujur, adil, demokratis, rendah hati, sederhana, dan kreatif.</p>
<p align="justify">Pengalaman selama bertahun-tahun telah memberikan pelajaran berharga bahwa pendidikan yang tidak berbasiskan kemanusiaan hanya akan melahirkan manusia yang cerdas dan terampil, tetapi kehilangan hati nurani dan perasaan. Ini artinya, revitalisasi pendidikan kemanusiaan semakin urgen dan relevan untuk diimplementasikan di tingkat praksis agar tidak terapung-apung dalam bentangan slogan, retorika, dan jargon belaka.</p>
<p align="justify">Sungguh terasa ironis kalau bangsa kita yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi, mengagungkan keluhuran budi, dan kesantunan berperilaku, akhirnya terjebak menjadi bangsa bar-bar, “kanibal”, dan pendendam, hanya lantaran pendidikan yang salah urus. Agaknya, sudah sangat mendesak dunia pendidikan kita disentuh oleh hal-hal yang bersifat humanistis dan religius. ***</p>
<p align="justify">ooo</p>
<p align="justify"><em><strong>Keterangan:</strong></em> gambar diambil dari <a href="http://images.google.com/images?q=gambar+kekerasan&amp;um=1&amp;hl=en&amp;rlz=1B3GGGL_enID264ID265&amp;start=20&amp;sa=N&amp;ndsp=20" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/revitalisasi-pendidikan-kemanusiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Spiritual di Sekolah, Apa Kabar?</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 14:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/</guid>
		<description><![CDATA[Hingga saat ini, saya masih terkesan dengan pemikiran-pemikiran (almarhum) Rama Mangunwijaya tentang dunia pendidikan. Pandangan-pandangannya mencerahkan, inklusif, kritis, dan selalu menyadarkan insan-insan pendidikan untuk mengembalikan dunia persekolahan kepada “khittah”-nya sebagai pencerah spiritual. Dalam buku Pasca-Indonesisa, Pasca-Einstein (1999), misalnya, Rama Mangunwijaya pernah bilang bahwa dunia persekolahan kita tidak mengajak anak didik untuk berpikir eksploratif dan kreatif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hingga saat ini, saya masih terkesan dengan pemikiran-pemikiran (almarhum) Rama Mangunwijaya tentang dunia pendidikan. Pandangan-pandangannya mencerahkan, <em>inklusif</em>, kritis, dan selalu menyadarkan insan-insan pendidikan untuk mengembalikan dunia persekolahan kepada “khittah”-nya sebagai pencerah spiritual. Dalam buku <em>Pasca-Indonesisa, Pasca-Einstein </em>(1999), misalnya, Rama Mangunwijaya pernah bilang bahwa dunia persekolahan kita tidak mengajak anak didik untuk berpikir eksploratif dan kreatif. Seluruh suasana pembelajaran yang dibangun adalah penghafalan, tanpa pengertian yang memadai. Adapun bertanya –apalagi berpikir kritis-praktis– adalah tabu. Siswa tidak dididik, tetapi di-<em>drill</em>, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut, tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang “pintar dan terampil” dalam sirkus.</p>
<p align="justify">Suasana pembelajaran yang “salah urus” semacam itu, demikian Rama Mangunwijaya yang semasa hidupnya akrab dengan lingkungan pendidikan kumuh di bantaran Kali Code Yogyakarta, telah membikin cakrawala berpikir peserta didik menyempit dan mengarah pada sikap-sikap fasisme, bahkan menyuburkan mental penyamun/perompak/penggusur yang menghambat kemajuan bangsa. Erat berhubungan dengan itu, timbullah suatu ketidakwajaran dalam relasi sikap terhadap kebenaran. Mental membual, berbohong, bersemu, berbedak, dan bertopeng, seolah-olah semakin meracuni kehidupan kultural bangsa. Kemunafikan merajalela. Kejujuran dan kewajaran dikalahkan. Keserasian antara yang dikatakan dan yang dikerjakan semakin timpang.</p>
<p><span id="more-78"></span></p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/kekerasan.jpg" align="left" /> Sikap-sikap fasis yang menafikan keluhuran akal budi, bahkan makin menjauhkan diri dari perilaku hidup yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, tampaknya sudah menjadi fenomena yang mewabah dalam masyarakat kita. Maraknya fenomena dan perilaku anomali semacam itu, disadari atau tidak, merupakan imbas dari sistem pendidikan yang telah gagal dalam membangun generasi yang utuh dan paripurna.</p>
<p align="justify"><em>Pertama</em>, selama menuntut ilmu di bangku pendidikan, pelajar yang baik senantiasa dicitrakan sebagai “anak mami” yang selalu mengamini semua komando gurunya. Mereka ditabukan untuk bersikap kritis, berdebat, dan bercurah pikir. Akibatnya, mereka tampak begitu santun di sekolah, tetapi menjadi liar dan bringas di luar tembok sekolah.</p>
<p align="justify"><em>Kedua,</em> anak-anak bangsa yang tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan (hampir) tidak pernah dididik secara serius dalam menumbuhkembangkan ranah emosional dan spiritualnya. Ranah kecerdasan spiritual yang amat penting peranannya dalam melahirkan generasi yang utuh dan paripurna justru dikebiri dan dimarginalkan. Kebijakan dan kurikulum pendidikan kita belum memberikan ruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan pencerahan spiritual siswa. Yang lebih memprihatinkan, guru sering terjebak pada situasi rutinitas pembelajaran yang kaku, monoton, dan menegangkan lewat sajian materi yang lebih mirip orang berkhotbah, indoktrinasi, dan “membunuh” penalaran siswa yang dikukuhkan lewat dogma-dogma dan mitos-mitos.<br />
***<br />
Idealnya, pendidikan harus mampu memberikan pencerahan dan katarsis spiritual kepada peserta didik, sehingga mereka mampu bersikap responsif terhadap segala persoalan yang tengah dihadapi masyarakat dan bangsanya. Melalui pencerahan yang berhasil ditimbanya, mereka diharapkan dapat menjadi sosok spiritual yang memiliki apresiasi tinggi terhadap masalah kemanusiaan, kejujuran, demokratisasi, toleransi, dan kedamaian hidup. Kita membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan.</p>
<p align="justify">Kecerdasan spiritual mewujud dalam perikehidupan yang diliputi dengan kesadaran penuh, perilaku yang berpedomankan hati nuruni, penampilan yang <em>genuine </em>tanpa kepalsuan, kepedulian besar akan tegaknya etika sosial. Sebaliknya, ketidakcerdasan spiritual menunjukkan diri dalam ekspresi keagamaan yang monolitis, eksklusif, dan intoleran yang sering meninggalkan “jejaknya” pada korban konflik atas nama agama, seperti yang belakangan ini sering kita saksikan.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/kekerasan-sekolah3.jpg" align="left" height="100" width="99" /> Kerdilnya kecerdasan spiritual yang mencuat dalam bentuk perilaku yang gemar berkonflik atas nama etnis dan agama, jelas menjadi keprihatinan kolektif kita sebagai bangsa. Ke depan, dunia pendidikan kita harus bersikap antisipatif dengan memberikan sentuhan perhatian yang cukup berarti terhadap ranah spiritual siswa. Kurikulum dan kebijakan pendidikan harus benar-benar mengakomodasi ranah spiritual siswa secara proporsional dan substansial.</p>
<p align="justify">Mata pelajaran Pendidikan Agama, selain ditambah alokasi waktunya, hendaknya juga tidak sekadar mencekoki siswa dengan setumpuk teori dan hafalan, tetapi harus benar-benar menyentuh kedalaman dan hakikat spiritual yang membuka ruang kesadaran nurani siswa di tengah konteks kehidupan sosial-budaya yang majemuk. Hal itu harus didukung oleh semua guru lintas mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan ke dalam materi ajar yang diampunya.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah penting, guru yang berada di garda depan dalam dunia pendidikan hendaknya mampu menjadi figur keteladanan spiritual di hadapan peserta didik. Guru hendaknya juga mampu “menanggalkan” jiwa yang kasar dalam mendidik. Sikap pendidik harus demokratis, lebih “<em>conscientious</em>“, lebih mawas diri, yang otomatis akan menular ke jiwa anak didik.</p>
<p align="justify">Di tengah situasi Indonesia yang masih “silang-sengkarut” akibat krisis multiwajah dan konflik berkepanjangan, sudah saatnya dunia pendidikan benar-benar mengambil peran sebagai pencerah dan katarsis peradaban yang sakit. Kehadirannya harus benar-benar dimaknai secara substansial sebagai “kawah candradimuka” yang menggembleng jutaan anak bangsa menjadi generasi yang utuh dan paripurna; cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya, sekaligus cerdas spiritualnya. Bukan hanya sekadar pelengkap yang selalu disanjung puji sebagai pengembang SDM, tetapi realitasnya hanya menjadi sebuah “Indonesia” yang terpinggirkan. ***</p>
<p align="justify"><em><strong>Keterangan:</strong></em> Gambar  diambil dari <a href="http://images.google.com/imgres?imgurl=http://www.wikimu.com/Common/NewsImage.ashx%3Fid%3D4812&amp;imgrefurl=http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx%3Fid%3D4812&amp;h=200&amp;w=200&amp;sz=5&amp;hl=en&amp;start=50&amp;sig2=rdjCgk0z-PNM9apNYgCcrg&amp;um=1&amp;tbnid=weVnJz7hkQwILM:&amp;tbnh=104&amp;tbnw=104&amp;ei=I9DOR57CHKmipwSDpNybCw&amp;prev=/images%3Fq%3Dpendidikan%2Bkekerasan%26start%3D40%26ndsp%3D20%26um%3D1%26hl%3Den%26rlz%3D1B3GGGL_enID264ID265%26sa%3DN" target="_blank">sini</a> dan <a href="http://images.google.com/imgres?imgurl=http://www.jawaban.com/images/images_berita/2006/kekerasan-sekolah3.jpg&amp;imgrefurl=http://www.jawaban.com/news/news/detail.php%3Fid_news%3D080117192340%26offx%3D1&amp;h=100&amp;w=99&amp;sz=4&amp;hl=en&amp;start=56&amp;sig2=IAXmCHntTYp_SwQOA8xPBQ&amp;um=1&amp;tbnid=ZRLG3of77j_LCM:&amp;tbnh=82&amp;tbnw=81&amp;ei=I9DOR57CHKmipwSDpNybCw&amp;prev=/images%3Fq%3Dpendidikan%2Bkekerasan%26start%3D40%26ndsp%3D20%26um%3D1%26hl%3Den%26rlz%3D1B3GGGL_enID264ID265%26sa%3DN" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2008/03/22/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerah Gara-gara Guru</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/gerah-gara-gara-guru/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/gerah-gara-gara-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 07:04:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/gerah-gara-gara-guru/</guid>
		<description><![CDATA[25 November telah ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional, bersamaan dengan HUT PGRI. Menurut rencana, puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2007 akan dipusatkan di Pekanbaru, Riau, yang akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat teras pendidikan lainnya. Untuk ke sekian kalinya, guru dihadirkan di ruang publik. Upacara digelar di seantero negeri, mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">25 November telah ditetapkan sebagai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Guru">Hari Guru Nasional</a>, bersamaan dengan HUT PGRI. Menurut rencana, puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2007 akan dipusatkan di <a href="http://www.pmptk.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=352&amp;Itemid=1">Pekanbaru, Riau</a>, yang akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat teras pendidikan lainnya. Untuk ke sekian kalinya, guru dihadirkan di ruang publik. Upacara digelar di seantero negeri, mulai dari pusat ibukota hingga dusun-dusun terpencil. Semua siswa didik mengangkat tangan tanda hormat tingginya marwah guru dalam membimbing mereka meraih masa depan. Lirik <a href="http://organisasi.org/pahlawan_tanpa_tanda_jasa_lirik_lagu_wajib_nasional">Hymne Guru</a> disenandungkan dengan rasa haru yang menyesak di dada. Para guru hanya bisa menunduk mendengarkan senandung pujian dan sanjungan. Tak kalah harunya menyaksikan siswa didiknya yang begitu tulus memberikan kado &#8220;<a href="http://organisasi.org/pahlawan_tanpa_tanda_jasa_lirik_lagu_wajib_nasional">Hymne Guru</a>&#8220;.</p>
<p align="justify">Ya, ya, ya, ibarat serdadu, guru di medan pendidikan mengemban misi memerdekakan generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda depan dalam “menciptakan” generasi-generasi muda yang cerdas, terampil, tangguh, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja andal, sehingga kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban.</p>
<p align="justify"><span id="more-74"></span>Mengemban misi tersebut jelas bukan tugas yang ringan. Selain harus memiliki bekal pengetahuan yang cukup, guru juga dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang tinggi dan keterampilan mengajar yang dapat diandalkan, sehingga mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif, sehat, dan menyenangkan. Hanya dengan bekal ideal tersebut, guru akan tampil sebagai figur yang benar-benar mumpuni, disegani, dan digugu lan ditiru (dipercaya dan teladani). Menurut versi <a href="http://www.imhere-dikti.net/request.php?70">UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen</a> dan PP 19/2009 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru mesti memiliki kualifikasi akademik yang dipersyaratkan dan menguasai empat kompetensi (pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional).</p>
<p align="justify">Sementara itu, jika kita melihat fakta di lapangan, banyak kalangan mulai meragukan kapabilitas dan kredibiltas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi pinunjul –terampil dan bermoral—belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru kian menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan. Yang lebih memperihatinkan, para pelajar itu dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius ke dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh perikehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan. Tawur antarpelajar merajalela, pesta “pil setan” menyeruak, pergaulan bebas semakin mencuat ke permukaan.</p>
<p><a href="http://sawali.wordpress.com/files/2007/11/handsphere.jpg" title="handsphere.jpg"><img src="http://sawali.wordpress.com/files/2007/11/handsphere.jpg" alt="handsphere.jpg" /></a></p>
<p align="justify">Zaman memang sudah berubah. Modernisasi yang melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dinilai memiliki imbas yang cukup kuat dalam memengaruhi sikap dan pola hidup masyarakat. Pergeseran nilai menyergap di segenap lapis dan sektor kehidupan. Nilai kesalehan, baik pribadi maupun sosial, mulai dikebiri dan dimarginalkan. Nilai-nilai lama yang semula dipegang kukuh mulai memudar.</p>
<p align="justify">Orang mulai semakin tidak intens dalam memburu jatidiri yang lebih bermartabat. Perburuan gengsi yang berkembang dalam kelatahan membuat orang mengejar keberhasilan secara instan, entah melakukan korupsi atau usaha magis melalui cara mistis dalam memperoleh kekayaan. Pada hakikatnya mereka gemar menempuh terobosan dan “jalan kelinci” dengan sukses gaya “Abu Nawas”. Kursi empuk kepejabatan, titel, dan kedudukan keilmuan pun tak jarang disergap melalui kelancungan dalam ilmu permalingan” (Slamet Sutrisno, 1997).</p>
<p align="justify">Dalam kondisi masyarakat yang demikian itu, petuah dan nasihat luhur tentang budi pekerti hanya menjadi slogan moral yang kehilangan basis spiritualnya. Masyarakat menjadi semakin masa bodoh dan cuek terhadap masalah-masalah moral. Masyarakat yang diharapkan menjadi kekuatan kontrol terhadap segala macam bentuk perilaku kejahatan justru makin menunjukkan sikap permisif, membiarkan setumpuk dosa berkeliaran di sekitarnya.</p>
<p align="justify">Pergeseran nilai yang melanda masyarakat modern, agaknya juga membawa dampak terjadinya pergeseran penilaian masyarakat terhadap dunia pendidikan. Urusan pendidikan anak-anak hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan (sekolah), sehingga kalau ada pelajar yang terlibat dalam perilaku amoral, misalnya, masyarakat dengan enteng menuding guru sebagai biangnya, lantaran dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pendidik.</p>
<p align="justify">Seiring dengan itu, posisi sosial guru dalam strata masyarakat pun tampaknya juga mulai bergeser. Guru tidak lagi memiliki legitimasi sosial yang terhormat dan bermartabat. Guru tidak lagi dijadikan sebagai sumber informasi, bahkan dalam banyak hal guru tidak lagi dijadikan sebagai patron teladan. Peran guru di masyarakat sebagai sumber informasi telah digantikan oleh “anak buah” teknologi yang lebih canggih lewat media televisi dan internet. Makna luhur yang tersirat di balik hymne guru “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” pun nadanya telah berubah menjadi sebuah elegi getir yang sarat parodi dan sindiran.</p>
<p align="justify">Sosok guru yang bermartabat dan terhormat pernah muncul ketika insitusi pendidikan kita masih berbentuk pertapaan dan padepokan yang begitu bersahaja. Konon, guru atau resi pada masa itu benar-benar menjadi figur anutan, berwibawa, dan disegani. Apa yang dikatakan sang resi merupakan “sabda” tak terbantahkan.</p>
<p align="justify">Institusi pertapaan tak ubahnya “kawah candradimuka”, tempat seorang resi menggembleng para siswa (cantrik) agar kelak menjadi sosok yang arif, tangguh, kaya ilmu, memiliki kepekaan moral dan sosial yang tinggi. Di mata masyarakat, kehadiran sang resi pun begitu tinggi citranya; bermartabat, terhormat, dan memiliki legitimasi sosial yang mengagumkan. Masyarakat benar-benar respek terhadapnya. Apresiasi masyarakat terhadap “profesi” resi atau guru sangat kental sehingga tidak jarang sang resi menjadi sumber “sugesti” atau sumber inspirasi masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul.</p>
<p align="justify">Apakah guru masa kini masih mampu menginternalisasi sifat-sifat seorang resi dalam mengemban misinya sebagai pengajar dan pendidik? Masihkah masyarakat memiliki apresiasi yang cukup baik dan memadai terhadap profesi guru? Mampukah lembaga pendidikan (sekolah) dengan fasilitasnya yang lebih komplit dan modern mencetak manusia-manusia “unggul”?</p>
<p align="justify">Agaknya mengharapkan sosok guru yang pinunjul, mumpuni, dan disegani seperti yang tergambar dalam figur seorang resi terlalu berlebihan pada saat ini. Di hadapan siswanya, kata-kata guru bukan lagi “sabda” yang mesti diturut.</p>
<p align="justify">Untuk menaikkan pamor guru, <a href="http://www.imhere-dikti.net/request.php?70">UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen</a> pun diluncurkan. Untuk itu, guru perlu menempuh uji sertifikasi pendidik. Jika lulus mereka akan mendapatkan sertifikat sebagai bukti bahwa mereka layak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Persoalan apakah sertifikasi guru mampu <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/31/sertifikasi-guru-sebuah-indonesia-yang-tertinggal/">mendongkrak mutu pendidikan</a> yang selama ini tersaruk-saruk, itu persoalan lain.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah memprihatinkan, hingga saat ini guru belum benar-benar menjadi profesi yang &#8220;merdeka&#8221;. Mereka gampang dipolitisir dan dipengaruhi oleh hegemoni kekuasaan. Masih ingat kasus yang menimpa <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0704/27/humaniora/3486199.htm">Kelompok Air Mata Guru</a> dalam Ujian Nasional di Medan beberapa waktu yang lalu? Ya, kelompok guru yang ingin membongkar berbagai praktik kecurangan tentang pelaksanaan UN justru diintimidasi dan ditekan. Sebuah tindakan &#8220;kekanak-kanakan&#8221; yang seharusnya tidak perlu terjadi. Agaknya, banyak pihak yang merasa gerah gara-gara guru. Bagaimana mungkin guru mampu mendidik anak-anak bangsa negeri ini menjadi generasi yang cerdas dan kritis kalau guru selalu diposisikan dalam keadaan tertekan? Apakah guru harus ikut-ikutan bersikap permisif dengan membiarkan berbagai kecurangan dan manipulasi berlangsung telanjang di depan mata?</p>
<p align="justify">Selain itu, guru tak jarang dijadikan “kendaraan” untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Guru tidak punya banyak pilihan. Kebebasan dan kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat telah dibatasi oleh simbol-simbol tertentu. Guru harus menjadi sosok yang nrima, pasrah, dan tidak banyak menuntut. Kondisi semacam itu diperparah dengan harapan masyarat yang terlalu “perfeksionis” dan berlebihan. Dalam kondisi yang belum sepenuhnya bisa menjadi sosok &#8220;merdeka&#8221;, masyarakat tetap menuntut agar guru tetap memiliki idealisme sebagai figur pengajar dan pendidik yang bersih dari cacat hukum dan moral.</p>
<p align="justify">Beratnya beban yang mesti dipikul guru masa kini jelas memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan untuk memosisikan guru pada aras yang lebih proporsional dan manusiawi. Reaktualisasi peran dan gerakan penyadaran dari semua pihak sangat diharapkan untuk memulihkan citra guru.</p>
<p align="justify">Guru harus lebih meningkatkan profesionalismenya sehingga tidak “gagap” ketika mengemban misinya sebagai penyemai intelektual, pemupuk nilai kemanusiaan, dan penyubur nilai moral kepada peserta didik. Tentu saja, misi luhur guru ini harus diimbangi dengan intensifnya pendidikan keluarga di rumah. Orang tua harus mampu mengembalikan fungsi keluarga sebagai basis penanaman dan pengakaran nilai moral, budaya, dan agama kepada anak, sehingga mereka mampu mengontrol perilakunya sesuai ajaran-ajaran luhur. Sedangkan, pemerintah perlu segera merealisasikan janjinya untuk meningkatkan kesejahteraan guru yang sudah jelas landasan hukumnya, yaitu <a href="http://www.imhere-dikti.net/request.php?70">UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen</a>.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah penting, apresiasi masyarakat terhadap profesi guru harus proporsional dan manusiawi. Guru bukanlah “dewa” atau “nabi” yang luput dari cacat dan cela. Kalau ada guru yang terlibat dalam kasus amoral, misalnya, hal itu memang kurang bisa ditolerir. Namun, juga terlalu naif jika buru-buru menghujatnya tanpa menyikapinya secara arif.</p>
<p align="justify">Sebagai serdadu pendidikan, kita semua jelas tidak menginginkan guru tampil loyo dan tidak berdaya memanggul beban di pundaknya. Memikirkan dan memberikan apresiasi yang cukup proporsional tentangnya identik dengan memikirkan nasib masa depan negeri ini. Sebab, generasi yang cerdas, terampil, dan bermoral tinggi yang kelak akan memimpin negeri ini, tidak luput dari sentuhan tangan sang guru. Yang tidak kalah penting, kembalikan &#8220;kemerdekaan&#8221; kepada guru agar mereka mampu menjalankan profesinya secara mandiri dan otonom, terbebas dari intervensi dan reduksi hegemoni kekuasaan. Sudah saatnya guru kembali ke &#8220;fitrah&#8221;-nya sebagai sosok yang bebas dan merdeka sehingga mampu menjalankan fungsi dan perannya secara optimal dalam upaya melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas, kritis, kreatif, berbudaya, bermoral, dan berperadaban. Nah, bagaimana? ***</p>
<p align="center"><font color="#ff0000"><strong>Dirgahayu Guru Indonesia!!! </strong></font></p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php"><br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/gerah-gara-gara-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bang Kempul Bergaya Selebritis: Sebuah Refleksi</title>
		<link>http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/bang-kempul-bergaya-selebritis-sebuah-refleksi/</link>
		<comments>http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/bang-kempul-bergaya-selebritis-sebuah-refleksi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 07:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/bang-kempul-bergaya-selebritis-sebuah-refleksi/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah jadi wakil rakyat, gaya hidup Bang Kempul berubah drastis. Kesibukannya luar biasa padat. Ia memang sering mangkir dan selintutan pada agenda yang “kering” dan melelahkan, tapi selalu hadir pada acara-acara “basah” yang mengalirkan kerincing dhuwit ke koceknya. Mobil mewahnya yang nongkrong di garasi siap memanjakan ke mana pun lelaki muda berjidat licin itu pergi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Setelah jadi wakil rakyat, gaya hidup Bang Kempul berubah drastis. Kesibukannya luar biasa padat. Ia memang sering mangkir dan selintutan pada agenda yang “kering” dan melelahkan, tapi selalu hadir pada acara-acara “basah” yang mengalirkan kerincing dhuwit ke koceknya. Mobil mewahnya yang nongkrong di garasi siap memanjakan ke mana pun lelaki muda berjidat licin itu pergi. Rumah dinasnya <em>magrong-magrong</em>, lengkap dengan segenap perabot dan fasilitas serba mewah. Busana yang membungkus tubuhnya pun harus bikinan luar negeri yang konon bisa membuat pemakainya <em>pede </em>dan bergengsi.</p>
<p align="justify"><span id="more-72"></span>Kursi dan jabatan telah membikin hidup Bang Kempul serba enak dan <em>kepenak</em>. Memanjakan naluri hedonis, seperti jalan-jalan ke luar negeri atau menghambur-hamburkan uang rakyat di hotel berbintang merupakan kejadian biasa dalam kamus politiknya. Dia lebih suka mengakrabi dunia “selebritis” ketimbang berada di tengah-tengah rakyat yang kelimpungan dijerat kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.</p>
<p align="justify">Sebagai politisi muda, Bang Kempul  tergolong “orator” ulung”. Kata-kata yang meluncur dari belahan bibirnya bak mitralyur yang siap membidik lawan bicara. Banyak kaum eksekutif dan pengusaha dibikin tak berkutik menghadapi argumennya yang cerdik, “licin”, dan melingkar-lingkar pada saat acara dengar pendapat digelar. Tapi sayang, kelebihannya itu tak dimaksimalkan untuk total dan suntuk memperjuangkan kepentingan rakyat.</p>
<p align="justify">Mungkin, di gedung wakil rakyat yang megah itu juga bertebaran “Bang Kempul” yang lain; bergaya koboi, bernafsi-nafsi, oportunis, dan infantil. Tidak aneh ketika pemerintah menaikkan harga BBM, lsitrik, dan telepon dalam waktu yang (nyaris) bersamaan beberapa waktu yang silam, yang jelas-jelas membikin beban rakyat makin sempoyongan, tak sepotong kata pun meluncur dari bibir “Bang Kempul”. Mulutnya seperti terkunci. Kebijakan ironis di tengah krisis itu pun jalan terus.</p>
<p align="justify">Perubahan gaya hidup Bang Kempul yang cenderung “nyelebritis” itu tak urung mengundang pergunjingan miring bagi orang-orang yang pernah mengenalnya. Jauh sebelum jadi wakil rakyat, Bang Kempul hanyalah bagian dari <em>wong cilik </em>yang hidup serba susah.</p>
<p><a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://amadeo.blog.com/repository/338552/879512.jpg&amp;imgrefurl=http://annasagung.blog.com/2006/6/&amp;h=444&amp;w=640&amp;sz=71&amp;hl=id&amp;start=1&amp;um=1&amp;tbnid=kFM_irmguSeuXM:&amp;tbnh=95&amp;tbnw=137&amp;prev=/images%3Fq%3Dpetruk%2Bdadi%2Bratu%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DN"><img src="http://sawali.wordpress.com/files/2007/11/petruk-dadi-ratu.jpg" alt="petruk-dadi-ratu.jpg" height="354" width="491" /></a></p>
<p>“Hebat dan luar biasa! Seperti lakon <a href="http://sawali.wordpress.com/wp-admin/petruk%20dadi%20ratu"><em>Petruk Dadi Ratu </em></a>saja! Jarang lho, orang yang bisa bernasib seperti dia!” celetuk kawan lama Bang Kempul suatu ketika dalam sebuah obrolan di warung kopi.</p>
<p align="justify">“Makanya, belajarlah politik pada dia, siapa tahu <em>Sampeyan</em> bisa mengikuti jejaknya!” sahut temannya yang lain sembari menghembuskan asap rokok.</p>
<p align="justify">”Boro-boro belajar, mau ketemu dia saja susahnya bukan main! Pernah aku datang ke Jakarta, bukannya diterima dengan baik, melainkan justru diusir secara halus dengan dalih sibuk, macem-macemlah! Yeah, bagi dia, orang macam kita-kita ini sudah <em>nggak</em> dianggap lagi!”</p>
<p align="justify">“Sebagai orang penting, kan <em>nggak</em> setiap saat orang bisa menemuinya tanpa melalui izin dan aturan protokoler!”</p>
<p align="justify">“Masak dengan kawan lama harus begitu! Apa sih susahnya menyuruh Satpam mengizinkan masuk ke rumahnya? Memang dasar sombong, mentang-mentang berpangkat, kawan lama dilupakan!”</p>
<p align="justify">“Itulah perilaku orang kalau sudah di atas, Mas, lupa sama yang di bawah!” seloroh Yu Ginah, penjual kopi, yang sedari tadi ikut nguping sembari menyorongkan bibirnya yang bergincu tebal. “<em>Wong cilik</em> seperti kita ini, paling-paling ya hanya bisa <em>ngudarasa </em>melihat polah tingkah orang-orang politik yang <em>mburu</em> kesenangannya sendiri!” kanjutnya.</p>
<p align="justify">Mereka terus saja “menelanjangi” perilaku Bang Kempul yang dianggap sebagai patron legislatif yang telah lupa akan kedalaman dan kesejatiannya sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya. Kursi terhormat yang didapat “atas nama” rakyat itu telah ditafsirkan menurut selera dan kepentingan sesaat, demi memanjakan nafsu dan ambisi kekuasaan semata.</p>
<p align="justify">Dalam perspektif budaya, perilaku anomali politik yang menghinggapi tokoh semacam Bang Kempul merupakan salah satu fenomena <em><a href="http://www.mail-archive.com/debritto@debritto.net/msg07850.html">melik nggendhong lali</a> </em>yang sering digambarkan dalam ikon <em>Petruk Dadi Ratu </em>yang tengah mabuk kekuasaan dengan memangku seorang perempuan cantik sembari menenteng minuman keras. Adagium ini, paling tidak memberikan gambaran bahwa orang yang tengah berada dalam lingkaran kekuasaan cenderung lupa (<em>lali</em>) terhadap asal-usul dan makna kesejatian hidup, serta bernafsu (<em>melik) </em>memanjakan naluri kesenangan inderawinya.</p>
<p align="justify">Dalam konteks demikian, dibutuhkan pencerahan dan pembebasan sikap <em>melik nggendhong lali </em>itu dengan selalu ingat <em>(eling</em>), waspada, hati-hati menjalani hidup agar tidak mudah terjebak dalam kubangan nafsu yang meninabobokan. Pujangga Ranggawarsita dalam <em><a href="http://jv.wikipedia.org/wiki/Serat_Kalatidha">Serat Kalatidha</a>, </em>wanti-wanti berpesan dan sekaligus memberikan warning bahwa <em>begja-begjane kang lali isih begja kang eling lawan waspada </em>(seuntung-untungnya orang yang lupa masih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada). Ini artinya, dalam setiap dimensi ruang dan waktu, manusia –lebih-lebih mereka yang tengah berkuasa—senantiasa dituntut memiliki rasa ingat dan waspada yang bermuara pada upaya pemuliaan nilai-nilai hidup dan kehidupan.</p>
<p align="justify">Persoalannya sekarang, apakah para politisi atau penguasa negeri ini mampu menjadikan sikap ingat dan waspada sebagai simpul untuk membelenggu liarnya sifat lupa dalam nafsu kekuasaan? Pertanyaan ini menjadi penting dan relevan dikemukakan, sebab perjuangan manusia melawan kekuasaan pada hakikatnya adalah perjuangan melawan lupa sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh pengarang Cekoslovakia, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Milan_Kundera">Milan Kundera</a>. Nah, bagaimana? <strong></strong></p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php"><br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.edublogs.org/2007/12/17/bang-kempul-bergaya-selebritis-sebuah-refleksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
